IHSG Merosot ke Level 5.734 pada Jeda Perdagangan
- 04 Jun 2026 13:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG melemah 206 poin atau 3,48 persen ke level 5.734,25 pada jeda perdagangan Kamis siang.
- Tekanan pasar dipicu pelemahan saham-saham big caps seperti BBCA, BBRI, dan TLKM serta melemahnya rupiah yang telah menembus Rp18.000 per dolar AS.
- Analis menilai IHSG berada dalam kondisi extremely oversold, namun masih berpotensi menguji area support 5.750–5.840 apabila ditutup di bawah level 5.900.
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada jeda perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG turun 206 poin atau 3,48 persen ke level 5.734,25.
Pergerakan indeks berada di zona merah sejak awal perdagangan. IHSG dibuka pada level 5.919 dan sempat menyentuh level tertinggi di 5.924.
Tekanan jual yang kuat membuat indeks terus bergerak turun hingga menyentuh level terendah di 5.644. Kondisi tersebut mencerminkan tingginya tekanan di pasar saham domestik pada sesi perdagangan pagi.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan volume transaksi mencapai 22,845 miliar saham. Nilai transaksi mencapai Rp12,738 triliun hingga jeda siang.
Mayoritas saham berada di zona merah. Sebanyak 683 saham melemah, 63 saham menguat, dan 62 saham tidak mengalami perubahan harga.
Analisis dari Mirae Asset menyoroti tekanan yang terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar. Menurut tim analis Mirae Asset, pelemahan pasar saat ini banyak terjadi pada saham fundamental besar dengan kepemilikan asing yang tinggi.
Saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, serta TLKM mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan sebelumnya. Penurunan harga saham-saham tersebut turut menyeret pergerakan IHSG ke zona merah yang lebih dalam.
Tekanan pasar juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi pelebaran defisit neraca perdagangan Indonesia ke depan.
Meski demikian, Mirae Asset menilai secara teknikal IHSG sudah berada dalam kondisi jenuh jual atau extremely oversold. “IHSG sejatinya sudah dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI,” tulis tim analis Mirae Asset.
Sementara itu, Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai level 5.900 menjadi area penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Menurut mereka, apabila IHSG ditutup di bawah level tersebut, indeks berpotensi menguji area support berikutnya.
“Secara teknikal, jika IHSG ditutup di bawah level 5.900, maka akan berpotensi menguji level support berikutnya, yakni di rentang 5.750 hingga 5.840,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Kamis, 4 Juni 2026.
Phintraco juga mencermati kenaikan harga minyak dunia yang kembali memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan peluang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.
Apabila rupiah terus melemah, peluang kenaikan suku bunga dinilai akan semakin besar. Sentimen tersebut menjadi salah satu faktor yang masih membayangi pergerakan pasar saham domestik dalam jangka pendek.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....