Barang Impor Mahal Jadi Ancaman Ekonomi Nasional 2026
- 20 Jan 2026 10:18 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Inflasi dari mahalnya barang-barang impor menjadi salah satu ancaman terbesar bagi ekonomi nasional tahun ini. Namun Indonesia memiliki mekanisme pertahanan alami terhadap risiko tersebut.
"Dukungan kebijakan industri yang mendorong penggunaan bahan baku lokal menjadi krusial," ujar Ecep Sukirman Senin (19/1/2025).
Mahasiswa magister manajemen, STIE IBMT Surabaya ini menambahkan caranya dengan memproduksi bahan baku industri di dalam negeri.
"Ketergantungan terhadap rantai pasok global yang rentan dapat ditekan," katanya.
Ecep mencontohkan Indonesia mampu menciptakan nilai tambah hingga 19 kali lipat dalam mengolah nikel menjadi katode."Dan sel baterai, dibandingkan ekspor bijih mentah. Inilah 'sabuk pengaman' ekonomi nasional," ucapnya.
Ketika harga komoditas mentah global jatuh, produk olahan Indonesia tetap memiliki daya tawar yang tinggi di pasar internasional.
Di samping itu, Ecep menilai fase pematangan ekosistem hilirisasi di Indonesia lebih paripurna tahun ini. Sebab Indonesia tidak hanya membangun smelter, tetapi juga operasionalisasi penuh ekosistem baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilir.
Menurut Ecep, surplus neraca perdagangan konsisten selama lebih dari lima tahun terakhir. "Sudah memberikan ruang fiskal yang cukup bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas domestik," ujarnya.
Meski begitu, Ecep mengingatkan tidak boleh terlena resiliensi ekonomi. "Tantangan terbesar ke depan adalah memastikan bahwa transformasi industri ini bersifat inklusif," katanya.
Ecep menilai mengintegrasikan UMKM ke dalam rantai pasok industri besar merupakan kunci. "Supaya pertumbuhan ekonomi tidak terkonsentrasi pada segelintir korporasi," ucapnya.
Pemerintah menargetkan tahun 2026 rasio kemitraan UMKM dengan industri besar meningkat. "Dari di bawah 10 persen menjadi sekitar 20 persen," ujar Ecep.
Kemitraan ini mencakup penyediaan komponen non inti, jasa logistik, hingga perawatan mesin smelter. "50 ribu lebih UMKM manufaktur juga telah didorong untuk memperoleh sertifikasi 'ISO' dan standar industri hijau," kata Ecep.
Tujuannya mampu menjadi pemasok bagi industri baterai kendaraan listrik dan otomotif. Peran UMKM dapat terlihat dalam berbagai sektor, mulai fabrikasi suku cadang mesin, kabel listrik, jasa logistik dan "maintenance".
Selain itu, pengolahan limbah industri menjadi produk bernilai tambah. Dampaknya bukan hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga membangun ekonomi lokal dan mendorong terciptanya ekonomi sirkuler.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....