Pelajar Pedalaman Aceh Utara Bertaruh Nyawa di Seutas Tali

  • 25 Apr 2026 18:26 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh Utara - Puluhan pelajar mulai dari jenjang TK hingga SMA di Desa Plu Pakam, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, setiap harinya harus menantang maut dan mempertaruhkan nyawa untuk menempuh ke Sekolah Dasar (SD) Negeri 7 di Kecamatan Paya bakong.

Puluhan bocah berseragam rapi berdiri berjejer, menanti giliran mereka menyeberang Sungai (Krueng) Keureuto menggunakan perahu fiber tanpa mesin yang ditarik secara manual. Di hadapan mereka terbentang sungai selebar 100 meter yang menjadi satu-satunya penghubung ke Dusun Pante Kiro Gampong Blang Pante menuju gerbang ilmu pengetahuan.

Kepala Dusun Biram Gampong Plu Pakam Nariman menjelaskan setiap harinya tidak kurang dari 40 pelajar mulai dari TK hingga SMA harus menempuh jalur berbahaya ini. Mayoritas dari mereka adalah siswa SD Negeri 7 Blang Pante Paya Bakong.

“Jika ingin lewat jalur darat yang aman, mereka harus memutar jalan sejauh puluhan kilometer sangat mustahil ditempuh oleh para pelajar khususnya bocah SD dengan mendayung sepeda.”kata Nariman, Sabtu 25 April 2026.

Lanjutnya, demi mengapai cita-cita, setiap siswa rela menyisihkan uang saku sebesar Rp2.000 untuk biaya operasional perahu, demi satu tiket menuju sekolah, fasilitas tersebut bukanlah pemberian negara, merupakan milik pribadi warganya.

“Kondisi ini cukup berbahaya, ketika itu tali penarik perahu bahkan pernah putus dan menyebabkan siswa terjatuh ke sungai. Beruntung saat itu debit air sedang rendah, sehingga tidak ada nyawa yang melayang. Tapi seragam basah kuyup, buku-buku hancur terendam lumpur.”kenangnya.

Menurutnya, para pelajar menuntut ilmu di kecamatan tetangga sudah terjadi sejak turun temurun, sebelum ada speed boat, pelajar menggunakan sampan. Speed boat fiber ini merupakan milik pribadi masyarakat bukan pemberian pemerintah.

“Kami sering mengusulkan jembatan ke Pemkab Aceh Utara sejak 2020. sudah pernah di tinjau tapi sampai sekarang hanya tinggal janji manis, warga berharap para pemangku kebijakan bisa melihat dan merasakan langsung. Jangan tunggu ada korban jiwa yang melayang dulu baru ada tindakan nyata,”harapnya.

Sementara, Rina Fariani, salah satu guru di SD Negeri 7 Blang Pante Paya Bakong, menyebutkan Dari 201 murid, 40 anak dari seberang sungai adalah yang paling menderita. Sering melihat muridnya tiba di kelas dalam kondisi seragam yang basah kuyup karena terpeleset saat mendarat di bantaran sungai yang licin.

“Jika hujan turun dan arus sungai meluap, bangku-bangku kelas pun dipastikan kosong karena para siswa tidak berani menyeberang. Harapan besar kini digantungkan pada pemerintah agar janji pembangunan jembatan segera ditepati, demi masa depan anak-anak di pedalaman Aceh Utara,”harapnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....