Jenazah Lewati Giram, Akses Pedalaman Malinau Kembali Disorot
- 01 Feb 2026 11:33 WIB
- Malinau
RRI.CO.ID, Malinau – Akses di pedalaman Kabupaten Malinau kembali menjadi sorotan lewat unggahan video yang beredar di salah satu platform media sosial, yang memperlihatkan perjuangan warga pedalaman saat membawa jenazah melintasi jalur sungai berarus deras.
Peristiwa itu menegaskan keterbatasan akses transportasi yang masih dihadapi masyarakat wilayah hulu sungai. Jenazah diangkut menggunakan perahu ketinting bermesin lima PK melalui Sungai Bahau, dari Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan menuju Desa Long Pujungan, Kecamatan Pujungan.
Dalam perjalanan, rombongan harus melewati Giram Baru atau Giram Nta Liang, salah satu titik sungai yang dikenal berbahaya karena arusnya kuat dan berbatu. Untuk menghindari risiko, muatan perahu terpaksa diturunkan dan dilansir secara manual.
Video yang diunggah konten kreator Roni Manan itu menunjukkan warga memikul jenazah menyusuri tepi sungai dari bagian hilir giram, sebelum kembali menaikkannya ke perahu di sisi hulu. Kondisi tersebut mencerminkan beratnya tantangan mobilitas di pedalaman Malinau.
| Baca juga: SOA Udara Malinau 2026 Fokus Tujuh Rute |
Roni Manan menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada Sabtu (31/1/2026). “Masyarakat membawa jenazah pulang ke Desa Long Pujungan dari Tanjung Selor. Almarhum meninggal dunia setelah menjalani pengobatan di sana,” kata Roni saat dikonfirmasi RRI, Minggu (1/2/2026).
Ia menambahkan, kejadian serupa kerap dialami warga pedalaman dan sudah menjadi bagian dari realitas sehari-hari. Perahu ketinting masih menjadi andalan masyarakat untuk mengangkut bahan kebutuhan pokok, bahan bakar minyak, layanan kesehatan, dan aktivitas sosial lainnya.
Menurutnya, kawasan Giram Baru juga sering menjadi lokasi kecelakaan sungai. Sejumlah peristiwa seperti perahu terbalik dan karam pernah terjadi akibat kondisi arus yang ekstrem. Jalur sungai menjadi satu-satunya sarana transportasi yang dapat digunakan untuk menjangkau wilayah tersebut.
Pemerintah daerah sebelumnya telah melakukan penanganan giram, termasuk melalui peledakan batu, namun risiko keselamatan masih membayangi warga. Masyarakat berharap adanya solusi jangka panjang yang lebih aman dan layak, sehingga aktivitas harian maupun kondisi darurat tidak lagi harus ditempuh dengan risiko tinggi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....