Sipakatau dan Pentingnya Saling Memanusiakan di Media Sosial
- 19 Mei 2026 20:16 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Di tengah derasnya arus komunikasi digital, masyarakat Indonesia sesungguhnya telah memiliki jawaban jauh sebelum internet lahir, yakni sebuah falsafah luhur dari Sulawesi Selatan yang dikenal dengan nama Sipakatau. Sipakatau merupakan istilah dalam bahasa Bugis. Kata si berarti “saling”, paka berarti “menjadikan”, dan tau berarti “manusia” dalam arti yang utuh, baik jiwa maupun raga. Dengan demikian, Sipakatau berarti “saling memanusiakan”.
Menurut Prof. Dr. Gusnawaty, M.Hum - Dosen Sastra Daerah FIB UNHAS, dalam Obrolan Suara Budaya Nusantara - Siaran Berjaringan Pro4 RRI Makassar bersama Pro4 RRI Jakarta pada hari Senin, 18 Mei 2026 Dalam budaya Bugis terdapat pepatah: Sipakatau artinya Manusia yang memanusiakan sesamanya akan dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa.
“Sipakatau bukan sekadar bentuk toleransi pasif atau pengakuan formal terhadap keberadaan orang lain. Nilai ini merupakan pengakuan aktif atas kemanusiaan seseorang. Setiap individu dipandang sebagai manusia yang utuh dan layak dihormati tanpa memandang latar belakangnya”, ucap Prof. Dr. Gusnawaty.
Prof. Dr. Gusnawaty menambahkan dalam budaya Bugis, Sipakatau tidak berdiri sendiri. Nilai ini merupakan bagian dari tiga, petuah utama (pappaseng) yang saling melengkapi, yaitu: sipakatau (saling memanusiakan), sipakainge (saling mengingatkan dengan hormat), sipakalebbi (saling memuliakan).
“Ketiga nilai ini membentuk sistem etika sosial yang sangat relevan diterapkan dalam kehidupan digital saat ini, sebelum mengunggah sesuatu di media sosial, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri, Apakah unggahan ini memanusiakan orang lain?” Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi filter moral agar seseorang tidak mudah menyebarkan kebencian, penghinaan, atau ejekan terhadap orang lain”, ujar Prof. Dr. Gusnawa
Lebih lanjut Prof. Dr. Gusnawaty menambahkan Nilai Sipakainge mengajarkan bahwa mengoreksi atau menegur orang lain harus dilakukan dengan rasa hormat dan empati, bukan dengan mempermalukan, sebelum meneruskan suatu unggahan atau menulis komentar.
“Seseorang perlu bertanya: “Apakah ini bentuk koreksi yang penuh empati atau justru mempermalukan orang lain?” Budaya Bugis juga mengenal prinsip merasakan apa yang dirasakan orang lain. Jika sebuah ucapan terasa menyakitkan ketika diarahkan kepada diri sendiri, maka ucapan tersebut seharusnya tidak diberikan kepada orang lain”, jelas Prof. Dr. Gusnawaty.
Sipakalebbi berarti saling menghargai dan memuliakan sesama. Nilai ini mengingatkan bahwa standar hidup, pengalaman, dan pandangan setiap orang berbeda-beda. Dalam pepatah Bugis disebutkan: Jangan mengukur bajumu di badan orang lain. Maknanya, seseorang tidak boleh menjadikan dirinya sendiri sebagai satu-satunya ukuran dalam menilai orang lain. Perbedaan cara berpikir, pilihan hidup, dan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk menghakimi.
Dengan memahami konteks secara utuh, seseorang tidak akan mudah menyerang atau merendahkan orang lain hanya karena perbedaan pandangan. Nilai ini mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia seharusnya tidak hanya menghindari menyakiti, tetapi juga aktif menghadirkan kebahagiaan dan keceriaan bagi orang lain. jika nilai ini diterapkan di media sosial. Ruang digital tentu akan menjadi lebih sehat, ramah, dan penuh empati.
Sebagai penutup ujaran kebencian yang menyerang identitas seseorang baik karena suku, agama, penampilan, maupun kondisi fisik merupakan kebalikan dari nilai Sipakatau. Karena itu, masyarakat Indonesia perlu kembali menggali kearifan lokal sebagai fondasi etika dalam kehidupan digital. Sipakatau mengajarkan bahwa teknologi boleh berkembang, tetapi kemanusiaan tidak boleh hilang. Di balik setiap akun media sosial terdapat manusia yang memiliki hati dan martabat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....