YUTFest 2026 Angkat Wajah Kota Lewat Panggung Teater
- 07 Mei 2026 17:47 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Taman Budaya Yogyakarta (TBY) resmi menggelar Yogyakarta Urban Teater Festival (YUTFest) 2026 pada Rabu, 6 Mei 2026. Festival yang berlangsung hingga 8 Mei 2026 di Concert Hall TBY ini hadir dengan tema “Pembacaan Atas Kota” dan menjadi ruang ekspresi sekaligus refleksi bagi para seniman muda dalam membaca dinamika kehidupan urban di DIY.
Ajang yang sebelumnya dikenal sebagai Parade Teater Linimasa tersebut kini hadir dengan konsep baru yang lebih menyoroti persoalan sosial perkotaan melalui pertunjukan teater. Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, membuka festival secara simbolis dengan pemukulan gong.
Dalam sambutannya, Dian menegaskan bahwa teater memiliki peran penting sebagai medium kritik sosial yang mampu menangkap berbagai kegelisahan masyarakat perkotaan masa kini.
"Yutfest merupakan sebuah keniscayaan dari evolusi kreatif yang tidak hanya sekadar mengganti nama dari ajang sebelumnya, tetapi juga memuat proyeksi masa depan bagi perkembangan seni teater. Selain itu, teater merupakan media kritik sosial yang efektif untuk melihat berbagai kegelisahan terkait situasi dan kondisi perkotaan kota saat ini," ujar Dian.

Hari pertama festival dibuka dengan penampilan Teater Seriboe Djendela melalui lakon “Belajar Membaca”. Pertunjukan tersebut mengangkat satire mengenai tantangan literasi di tengah sikap apatis generasi muda terhadap pendidikan.
Lakon ini mengisahkan perjuangan Bu Laksmi, seorang guru bahasa Indonesia yang berusaha menanamkan pentingnya budaya literasi kepada murid-muridnya. Konflik muncul ketika para siswa yang dipimpin Ares dan Eris memilih meninggalkan kelas dan mematahkan harapan sang guru.
Disutradarai Judha Jiwangga, pertunjukan ini tampil berbeda dengan pendekatan musikal eksploratif berpadu nuansa musik salsa yang jarang ditemui di panggung teater Yogyakarta.
Sutradara Teater Seriboe Djendela, Juda Jiwaga, menilai teater tidak hanya menjadi bagian dari industri kreatif, tetapi juga sarana pendidikan karakter.
"Kami ingin menunjukkan bahwa teater musikal juga memiliki potensi berkembang di Yogyakarta. Melalui isu literasi, kami mengangkat pentingnya peran dasar pendidikan serta mengingatkan kembali marwah profesi guru," ujarnya.

Sementara itu, pementasan kedua dari Sanggar Ori Gunungkidul menghadirkan suasana berbeda lewat lakon komedi berjudul “Gres”. Pertunjukan tersebut berhasil mengundang gelak tawa penonton melalui cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Cerita “Gres” bermula dari kepanikan sebuah keluarga ketika Alif, bocah berusia 12 tahun, mengalami insiden alat kelaminnya terjepit resleting celana. Situasi yang awalnya sepele kemudian berkembang menjadi kekacauan yang mengundang humor di dalam rumah.
Kepala TBY, Purwiati, berharap YUTFest dapat menjadi ruang regenerasi bagi para kreator muda untuk terus menghadirkan karya-karya teater yang relevan dengan isu kontemporer, mulai dari teknologi, algoritma, hingga fenomena Fear Out, Missing Out (FOMO) di masyarakat.
"Yogyakarta Urban Teater Festival digambarkan bukan lantas dari kata urban secara harafiah maupun terminologinya. Namun, urban dalam hal ini sebagai perspektif melihat Yogyakarta pada kontekstual hari ini melalui teater," kata Kepala TBY Purwiati
Adapun rangkaian pementasan YUTFest 2026 dibagi dalam dua kelompok setiap harinya. Pada 6 Mei tampil Teater Seriboe Djendela dan Sanggar Ori Gunungkidul, kemudian 7 Mei menghadirkan Emprit Sett Panggung dan Serbet Budaya, serta 8 Mei menampilkan Mendak Creative dan Hurung Nemu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....