Konservasi Seni Krumpyung Jadi Simbol Penjaga Ekologi Yogyakarta

  • 04 Mei 2026 11:20 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pelestarian identitas budaya lokal dan keseimbangan alam merupakan sebuah kesatuan tak terpisahkan yang menjadi pilar utama bagi masa depan. Penumbuhan rasa cinta terhadap kesenian tradisional yang berbahan dasar alam kini harus dipandang sebagai investasi karakter yang esensial, terutama guna membangun generasi penggerak yang peduli di bayang-bayang modernisasi dan tergusurnya lahan hijau oleh bangunan beton.

Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam program dialog budaya "Kawruh" yang disiarkan langsung oleh RRI Pro 4 Yogyakarta, Senin 4 Mei 2026, dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum., selaku Penasehat APEBSKID DIY dan Dosen UNY, serta Dr. Fu'adi, M.Sn., selaku Anggota APEBSKID DIY dan juga Dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dalam diskusinya, kedua akademisi tersebut membedah bahwa eksistensi seni musik tradisi Krumpyung asal Kokap, Kulon Progo, tidak lepas dari tanggung jawab moral masyarakat dalam menjaga ekologi alam raya.

Nilai-nilai kepedulian tersebut bukan sekadar wacana estetika bermusik, melainkan energi aktif yang harus terus diinternalisasi dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Secara filosofis dan ekososial, permainan alat musik bambu ini menuntut kerja sama kolektif dan seharusnya bermuara pada satu tujuan bersama, yakni kerukunan hidup layaknya bambu sedapur (satu rumpun) dan pelestarian lingkungan. Jika fondasi kesadaran kolektif ini goyah dan rumpun bambu dibiarkan punah, maka cita-cita mempertahankan kearifan lokal Yogyakarta pun akan sulit dicapai.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Pesatnya gaya hidup modern ibarat rintangan yang jika tidak dibarengi dengan gerakan pelestarian yang mumpuni, justru akan memperlebar celah kepunahan. Generasi muda kini sering kali terjebak dalam zona hiburan instan yang memicu ketidakpedulian terhadap warisan leluhur. Prof. Suwardi mengamati bahwa memfasilitasi anak muda untuk mau turun langsung melestarikan Krumpyung adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan pendekatan khusus, mengingat bahan baku seperti bambu wulung, apus, dan petung juga semakin terdesak di habitat aslinya.

Guna membentengi hal tersebut, diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan kelompok seniman, institusi pendidikan, hingga pemangku kebijakan. Di level instansi dan sekolah, festival-festival Krumpyung serta kegiatan ekstrakurikuler Pramuka didorong untuk menjadi ruang interaksi yang nyata agar pemuda dapat saling bahu-membahu mengenal identitasnya. Sementara itu, di tingkat masyarakat luas dan pariwisata, keterlibatan aktif grup Krumpyung di berbagai destinasi seperti Waduk Sermo, Pantai Glagah, hingga Gua Kiskendo dianggap efektif untuk menyosialisasikan pentingnya keseimbangan alam dan budaya.

Terkait urgensi peran generasi muda tersebut, Prof. Suwardi menekankan tentang pentingnya aksi nyata melalui dukungan pemerintah dan efisiensi kesenian. "Pemerintah telah berupaya melakukan pemberdayaan melalui festival-festival Krumpyung bagi anak-anak sekolah. Ini menjadi wadah nyata agar seni ini tetap hidup sebagai sebuah identitas, jangan sampai lenyap," ujarnya.

Lebih lanjut, Dr. Fuadi juga menyoroti peran penting sinergi lintas zaman dalam menjaga marwah keistimewaan Jogja. "Musik Krumpyung memang tradisi, tapi kita juga butuh dikolaborasikan dengan aransemen baru atau musik modern agar tidak monoton. Edukasi dan digitalisasi ke media sosial seperti YouTube atau TikTok sangat penting agar gerakan pelestarian ini berjalan selaras dengan generasi sekarang," ujarnya.

Sebagai penutup, seluruh elemen pemuda dan masyarakat diajak untuk melakukan refleksi mendalam dan aksi nyata mulai dari lingkup terkecil. Kesenian Krumpyung dan pelestarian bambu di Yogyakarta harus terus dijaga dan dirawat sebagai tanggung jawab kolektif, bukan justru dibiarkan larut dalam arus kepunahan. Investasi pada karakter pemuda yang peduli tradisi dan lingkungan hari ini akan menjadi penentu apakah Yogyakarta mampu tetap asri, berbudaya, dan istimewa pada masa-masa yang akan datang.(auliya)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....