Fenomena Fake Rich, Gaya Hidup atau Tekanan Sosial?

  • 27 Apr 2026 21:35 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Fenomena fake rich middle class menjadi sorotan karena menggambarkan kelompok masyarakat yang tampak kaya secara gaya hidup. Namun secara finansial, kelompok ini sering kali memiliki kondisi ekonomi yang rapuh dan tidak stabil dalam jangka panjang.

Istilah ini merujuk pada individu kelas menengah yang mengonsumsi barang atau pengalaman layaknya kelompok kaya. Padahal, kemampuan finansial mereka sebenarnya terbatas dan tidak didukung tabungan, investasi, atau perlindungan keuangan yang memadai.

Menurut riset dari Bayes Business School, Inggris, perilaku konsumsi status juga berkaitan dengan ketimpangan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Sebagian orang membeli barang mewah, bahkan palsu, untuk mengejar pengakuan sosial dan merasa setara secara simbolik.

Fenomena ini juga dijelaskan melalui konsep conspicuous consumption atau konsumsi mencolok yang diperkenalkan ekonom Thorstein Veblen. Dalam konsep tersebut, konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi alat menunjukkan status sosial di masyarakat.

Di era digital, media sosial memperkuat tekanan tersebut melalui standar kesuksesan yang ditampilkan secara visual dan terus-menerus. Gaya hidup seperti liburan, nongkrong di kafe, atau penggunaan barang bermerek menjadi tolok ukur keberhasilan yang sering ditiru.

Menariknya, kelompok ini memiliki peran penting dalam meningkatkan konsumsi nasional melalui aktivitas belanja yang terus berkembang pesat. Aktivitas tersebut mendorong pertumbuhan sektor ritel, gaya hidup, serta pariwisata sehingga ekonomi nasional menjadi lebih dinamis.

Selain faktor sosial, kemudahan akses kredit seperti paylater dan kartu kredit turut mendorong perilaku konsumtif berlebihan. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat terlihat sejahtera, padahal bergantung pada utang dan memiliki ketahanan finansial yang rendah.

Para pakar menyatakan bahwa solusi utama fenomena ini adalah peningkatan literasi keuangan dan kesadaran dalam pengelolaan keuangan. Dengan pemahaman yang baik, kelas menengah tidak hanya mengejar citra, tetapi juga menciptakan kestabilan ekonomi berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....