Prof. Zainuddin : Silaturahmi Cara Menghapus Sekat-Sekat Ditengah Masyarakat
- 11 Apr 2026 05:27 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar : Pasca melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh, umat Muslim diharapkan tidak meninggalkan kebiasaan baik di bulan ramadan serta tidak mengabaikan nilai-nilai sosial. Hal ini disampaikan Asisten Direktur IV, Program Pasca Sarjana Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. Zainuddin saat berdialog bersama Pro 4 RRI Makassar, Sabtu, 11 April 2026.
Ia menegaskan bahwa nilai sosial Ramadan justru diuji di bulan Syawal melalui kuatnya jalinan silaturahmi tanpa memandang perbedaan status maupun pilihan politik. Dalam dialog, guru besar kampus hijau ini menekankan pentingnya keberlanjutan ibadah agar tidak berhenti saat Idul fitri.
"Setelah kita berpuasa sebulan penuh, kita lanjutkan dengan puasa Syawal yang dibarengi silaturahim atau Halal Bihalal ini tidak boleh hanya sekadar formalitas salam-salaman," kata Asisten Direktur IV Pascasarjana UMI tersebut.
Prof. Zainuddin ini mengibaratkan Ramadan sebagai tempat perbaikan diri dan memberikan dampak kepada seseorang saat kembali berinteraksi di masyarakat. "Ramadan itu ibarat sebuah bengkel; nah, beroperasinya mobil itu setelah keluar dari bengkel, yaitu di luar Ramadan, di situlah nilai sosialnya diuji," jelas Prof Zainuddin.
Menurutnya, silaturahmi di bulan Syawal memiliki kekuatan untuk menyatukan kembali kerenggangan yang mungkin terjadi akibat perbedaan pandangan politik maupun status sosial. "Ini momentum terbaik untuk mempererat silaturahim; perbedaan pilihan mulai dari tingkat RT hingga Presiden harus kita cairkan melalui momen Halal Bihalal ini," tegas dia.
Selain aspek politik ungkap Zainuddin, silaturahmi dinilai efektif untuk menghapus setimen ekonomi ditengah masyarakat. "Momen ini cukup bagus untuk mencairkan perbedaan politik, juga perbedaan status sosial antara yang miskin dengan yang kaya agar semua kembali setara," tambahnya.
Dalam Al-Qur'an, guru besar bidang agama ini mengingatkan bahwa, manusia diciptakan berbeda-beda karena itu diperlukan saling mengenal, termasuk dengan yang berbeda keyakinan. "Di dalam Al-Qur'an, silaturahim tidak bisa diabaikan karena manusia adalah satu keluarga; kita diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling kenal-mengenal," paparnya.
Prof. Zainuddin yang juga tokoh agam ini meminta masyarakat agar berhati-hati dalam memanfaatkan momen silaturahmi, seperti reuni, agar tidak melenceng dari nilai-nilai agama. "Semua yang kita lakukan ada sisi positif dan negatifnya; kita harus kembali ke posisi masing-masing, misalnya sebagai suami atau istri yang baik saat menghadiri reuni," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....