Halal Bihalal Merupakan Jembatan Silaturahmi Antar Lintas Agama
- 11 Apr 2026 04:29 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar : Momentum bulan Syawal diharapkan menjadi ajang mempererat hubungan antar umat beragama dan bukan hanya sesama umat muslim. Hal ini disampaikan oleh Asisten Direktur IV Program Pascasarjana UMI Makassar, Prof. Dr. Zainuddin dalam program Dialog Nuansa Fajar dengan topik Syawal Bulan Silaturahmi : Memperkuat Lintas Perbedaan, Sabtu (11 April 2026).
Prof. Zainuddin juga menekankan bahwa, ibadah yang dijalankan selama Ramadan sepatutnya memberikan dampak dalam kehidupan sosial setelahnya. "Kegiatan-kegiatan keagamaan di bulan Ramadan itu tidak berhenti pada berhentinya bulan Ramadan, tetapi justru itu yang mau kita lihat bagaimana implikasinya setelah Ramadan," tegas akademi UMI Makassar ini dalam dialog.
Menurutnya, Syawal adalah waktu yang tepat untuk melihat apakah ada efek positif yang menetap pada diri seseorang setelah melalui tempaan sebulan penuh. "Jadi, ada tidak efek positif yang kita dapat pasca-Ramadan ini? Sebagaimana yang disampaikan terkait dengan bulan Syawal ini sebagai bulan silaturahim," kata dia.
Ia juga menyoroti tradisi unik di Indonesia seperti Halal Bihalal atau Syawalan yang telah menjadi budaya turun-temurun. "Temanya sudah bagus tentang bulan Syawal sebagai bulan silaturahim, satu momentum yang selama ini kita tradisikan di kalangan umat Islam Indonesia, yaitu tradisi Halal Bihalal atau Syawalan di Muhammadiyah," jelasnya.
Lebih lanjut Ustad Zainuddin ini memberikan catatan penting bahwa tradisi ini tidak hanya eksklusif di lingkungan internal umat Islam saja. "Ada satu fenomena bahwa tradisi Syawalan atau Halal Bihalal yang kita laksanakan itu hanya di komunitas kita, komunitas umat Islam; seharusnya itu bisa dikembangkan keluar," tegas Prof Zainuddin.
Dirinya mendorong agar masyarakat mulai mengajak masyarakat non-muslim dalam acara tersebut sebagai wujud nyata moderasi beragama di Indonesia. "Tradisi Halal Bihalal itu juga kita undang, kita ajak non-muslim sebagai bagian dari moderasi keagamaan agar tidak hanya menjadi bias internal kita sendiri," tambahnya.
Guru besar kampus UMI ini menilai, tradisi tersebut tentu untuk mencairkan ketegangan atau kesalahan yang mungkin terjadi di masa lalu, termasuk saat menjalankan ibadah Ramadan. "Intinya Halal Bihalal itu saling memaafkan; boleh jadi saat Ramadan kita terlalu bersemangat ibadah sampai lupa menghormati atau mengganggu tetangga yang non-muslim," ungkap dia.
Zainuddin mengingatkan bahwa, sikap memaafkan merupakan inti syariah, sementara Halal Bihalal adalah budaya yang memperkuat persatuan bangsa. "Saling memaafkan itu syariah, tetapi tradisi Halal Bihalal adalah kultur Indonesia yang harus kita bangun untuk memperkuat ukhuwah wataniah (kebangsaan) dan ukhuwah insaniah (kemanusiaan)," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....