Dari Kuli Bangunan Jadi MC, Gustomi Arifin Menolak Menyerah
- 17 Jul 2026 20:22 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Jatuh terpuruk merupakan fase wajar dalam perjalanan hidup, namun menolak untuk menyerah adalah keputusan mutlak. Prinsip teguh inilah yang dibuktikan oleh Gustomi Arifin, seorang pemuda yang sukses bangkit dari kerasnya hidup sebagai kuli bangunan hingga kini menjelma menjadi mahasiswa aktif dan Master of Ceremony (MC) profesional.
Kisah kegigihan tersebut ia bagikan secara blak-blakan dalam program RONDA (Ruang Obrolan Pro 2) bertajuk "Tumbang Itu Manusiawi, Tapi Menolak Menyerah Adalah Sebuah Pilihan" di Studio RRI Pro 2 Pontianak yang dipandu oleh Naufal, Kamis, 16 Juli 2026.
Gustomi mengenang masa terberatnya yang terjadi pada akhir tahun 2021. Himpitan masalah ekonomi dan kondisi ibunya yang jatuh sakit memaksanya putus sekolah saat menduduki bangku kelas 3 SMK di Pulau Jawa. Ia harus kembali ke Pontianak, menempuh pendidikan kejar Paket C, lalu memeras keringat bekerja kasar sebagai kuli bangunan di Sintang dan Sanggau pada usia 18 tahun demi menyambung hidup dan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Titik balik kehidupannya perlahan bersinar saat ia memutuskan untuk mengikuti pelatihan di Hop Terampil Digital Pontianak pada tahun 2023. Di wadah tersebut, ia menemukan lingkungan suportif untuk mengasah berbagai keterampilan baru, mulai dari mengoperasikan perangkat lunak komputer, fotografi, hingga teknik public speaking yang kini membawanya mendulang rezeki sebagai pembawa acara (MC).
Dalam perjalanannya menyembuhkan luka mental, Gustomi juga menemukan ruang aman untuk bercerita di komunitas CRK di bawah naungan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Ia menegaskan, bergabung dengan komunitas atau ruang publik yang positif terbukti sangat ampuh mencegah anak muda dari kebiasaan mengurung diri saat dirundung masalah berat.
Pada kesempatan yang sama, pemuda ini menyoroti pentingnya meruntuhkan stigma sosial yang menyebut laki-laki pantang menangis dan tidak boleh rapuh.
"Tidak boleh ada lagi normalisasi 'laki-laki tidak boleh bercerita'. Pria itu berhak bercerita dan menangis. Itu sama sekali tidak menunjukkan kelemahan, justru membuktikan bahwa kita sedang berusaha keras dan kita hanyalah manusia biasa," ungkap Gustomi tegas.
Menutup obrolan inspiratif malam itu, ia membagikan strategi psikologis bagi Generasi Z untuk bangkit dari rasa putus asa dan kebiasaan overthinking. Langkah pertama adalah menghentikan kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain karena garis awal (privilege) setiap individu sudah pasti berbeda.
Jika merasa lelah, ia menyarankan anak muda untuk beristirahat sejenak demi memulihkan energi, lalu kembali menyusun target-target kecil yang realistis. Hal paling esensial, Gustomi meminta setiap orang untuk merombak total pola pikir ketakutan mereka akan kegagalan. Jangan lagi pesimis memikirkan 'bagaimana jika nanti gagal lagi?', ubahlah mentalitas tersebut menjadi antusiasme 'bagaimana jika kali ini berhasil?'.
Baca juga: Bangkit dari Musibah, Iqbal Sukses Rintis Usaha Es Gembul
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....