Integritas Jadi Bukti Nyata Keimanan Seorang Mukmin
- 17 Jul 2026 16:50 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Integritas menjadi bukti nyata keimanan. Ustazah Nurhayati menegaskan bahwa keimanan seorang mukmin tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari keselarasan antara ucapan, perbuatan, dan akhlak.
- Ibadah harus membawa perubahan perilaku. Tujuan ibadah bukan sekadar memenuhi kewajiban, melainkan membentuk pribadi yang lebih baik, jujur, dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
- Kejujuran dan istiqamah adalah fondasi seorang mukmin. Kejujuran harus dijaga meski menghadapi konsekuensi, sementara istiqamah dibangun melalui perbaikan diri, peningkatan kualitas ibadah, dan pembiasaan berbuat baik.
RRI.CO.ID, Palembang - Nilai keimanan seorang mukmin tidak cukup diukur dari rajinnya ibadah ritual saja. Kejujuran dan konsistensi perilaku dalam kehidupan sehari-hari menjadi barometer utama keislaman seseorang.
Ustazah Nurhayati Damiri dalam Dialog Mutiara Pagi di PRO 1 RRI Palembang Senin, 13 Juli 2026 menegaskan bahwa ukuran seorang mukmin tidak hanya dilihat dari rajinnya menjalankan ibadah, tetapi juga dari integritas yang tercermin dalam ucapan dan perbuatannya.
Dalam pemaparannya, Ustazah Nurhayati menjelaskan bahwa banyak orang menganggap ciri orang beriman hanya sebatas rajin salat dan membaca Al-Qur'an. Namun, menurutnya, Al-Qur'an mengajarkan bahwa seorang mukmin sejati adalah mereka yang mampu menjaga keselarasan antara lisan, perbuatan, dan akhlaknya.
"Bukti orang beriman bukan hanya rajin beribadah atau mengaji, tetapi bagaimana integritasnya terhadap lisan dan perbuatannya," ujar Ustazah Nurhayati.
Ia menambahkan bahwa ibadah merupakan kewajiban setiap muslim. Namun, tujuan utama ibadah adalah menghadirkan perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari.
"Ibadah itu kewajiban kita, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana ibadah tersebut mampu mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik," katanya.
Sebagai contoh, Ustazah Nurhayati mengingatkan bahwa seseorang yang tekun beribadah tetapi masih sering mengingkari janji menunjukkan bahwa nilai ibadahnya belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku.
Menurutnya, kejujuran merupakan fondasi utama dalam membangun integritas seorang mukmin. Meski terkadang kejujuran dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak menyenangkan, nilai tersebut harus tetap dijaga.
"Kejujuran menjadi pondasi hidup kita, meskipun jujur itu terkadang menyakitkan," jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa integritas berarti adanya kesesuaian antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Istiqamah dapat dibangun dengan terus memperbaiki diri, menjaga kualitas ibadah, serta membiasakan diri untuk tetap berbuat baik dan jujur dalam setiap keadaan sehingga nilai keimanan tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
| Baca juga: Cara Merubah Nasib dalam Pandangan Islam |
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....