Otak Sulit Fokus, Kenali Popcorn Brain

  • 17 Jul 2026 08:14 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Istilah popcorn brain belakangan semakin sering diperbincangkan di media sosial. Kondisi ini dikaitkan dengan kebiasaan berpindah-pindah dari satu konten digital ke konten lainnya dalam waktu singkat, sehingga membuat seseorang merasa sulit berkonsentrasi saat menjalani aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama, seperti membaca buku, belajar, atau bekerja.

Meski demikian, popcorn brain bukanlah diagnosis medis. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika otak terbiasa menerima rangsangan digital yang cepat dan terus-menerus, sehingga aktivitas dengan tempo lebih lambat terasa kurang menarik.

Mayo Clinic Press menjelaskan, istilah popcorn brain pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan komputer dari University of Washington, David M. Levy. Istilah itu menggambarkan seseorang yang begitu terbiasa dengan aktivitas digital dan multitugas secara elektronik hingga kehidupan di luar layar terasa kurang menarik.

"Popcorn brain bukanlah diagnosis yang diakui oleh American Psychological Association maupun American Psychiatric Association. Istilah ini menggambarkan keadaan ketika seseorang terus-menerus terdorong untuk mencari stimulasi digital yang cepat," tulis Mayo Clinic Press dalam artikel 5 Things to Know About "Popcorn Brain" yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Menurut Mayo Clinic Press, salah satu penyebabnya adalah kebiasaan melakukan banyak aktivitas digital secara bersamaan, seperti membalas pesan, membuka media sosial, dan berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain dalam waktu singkat. Perpindahan perhatian yang terus-menerus membuat otak bekerja lebih keras sehingga lebih mudah mengalami kelelahan dan kesulitan mempertahankan fokus dalam jangka waktu lama.

Sejalan dengan itu, Mayo Clinic juga mengingatkan bahwa penggunaan layar secara berlebihan dapat dikaitkan dengan berbagai dampak, seperti berkurangnya waktu tidur, menurunnya kemampuan berkonsentrasi, hingga berkurangnya waktu untuk belajar dan berinteraksi secara langsung, terutama pada anak dan remaja.

Meski terdengar mengkhawatirkan, kondisi tersebut bukan berarti tidak dapat diatasi. Para ahli menyarankan masyarakat mulai membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, seperti mengaktifkan mode fokus atau focus mode, membatasi notifikasi yang tidak penting, memberi jeda dari penggunaan gawai, serta melatih diri untuk menyelesaikan satu pekerjaan sebelum beralih ke aktivitas lainnya.

Meluangkan waktu membaca buku, berolahraga, atau berbincang tanpa gangguan ponsel juga dapat membantu melatih kembali kemampuan otak untuk mempertahankan perhatian.

Di tengah derasnya arus informasi digital, teknologi tetap membawa banyak manfaat apabila digunakan secara bijak. Menjaga keseimbangan antara waktu menatap layar dan aktivitas di dunia nyata menjadi langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan otak sekaligus meningkatkan kualitas konsentrasi dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....