Media dan Komunitas Membangun Narasi Positif di Tengan Disrupsi Informasi

  • 16 Jul 2026 15:50 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Kamis ( 16/7/2026 ) pagi, mengupas tuntas salah satu tantangan terbesar masyarakat modern di era digital. Diskusi interaktif ini menghadirkan dua figur yang sangat kompeten di bidangnya masing-masing, yaitu Drs. H. Rahudman Harahap, M.M. ( Ketua Dewan Penasehat Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sumatera Utara ) dan Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si. ( Guru Besar Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU) ). Fokus utama dialog ini adalah membedah bagaimana maraknya berita bohong (hoax), disinformasi, dan polarisasi opini publik di media sosial dapat diredam melalui penguatan kualitas jurnalisme profesional serta peningkatan kecerdasan bermedia bagi masyarakat luas.

Dari perspektif industri media siber dan regulasi pers di daerah, Drs. H. Rahudman Harahap, M.M. menyoroti peran krusial para pemilik media dan jurnalis dalam menjaga marwah ruang publik agar tetap sehat. Sebagai Ketua Dewan Penasehat JMSI Sumut, ia menekankan bahwa di tengah kecepatan arus informasi digital, media siber tidak boleh mengorbankan akurasi demi mengejar umpan klik (clickbait). JMSI berkomitmen penuh untuk mendorong profesionalisme wartawan melalui sertifikasi dan kepatuhan mutlak terhadap Kode Etik Jurnalistik. Menurutnya, media massa harus menjadi pilar penjernih informasi (clearing house) yang mampu menyajikan berita berbasis fakta berimbang, sehingga dapat memproduksi narasi-narasi edukatif yang optimis untuk mendukung kondusivitas sosial dan pembangunan di Sumatera Utara.

Sementara itu, dari sudut pandang teoretis komunikasi dan analisis perilaku khalayak, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si. memberikan pandangan ilmiah mengenai dampak psikososial dari ledakan informasi yang tak terbendung. Sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi USU, ia menjelaskan bahwa teknologi algoritma media sosial cenderung menciptakan ruang gema (echo chamber) yang dapat memperuncing gesekan di masyarakat jika tidak dibarengi dengan literasi digital yang matang. Ia menggarisbawahi bahwa membentengi masyarakat dari disrupsi informasi memerlukan pendekatan edukasi yang masif dari institusi pendidikan, komunitas, hingga tingkat keluarga. Masyarakat harus dibiasakan untuk menerapkan prinsip check and recheck sebelum menyebarkan sebuah konten, serta mampu membedakan antara fakta obyektif dan sekadar opini atau persepsi subjektif di internet.

Diakhir dialog narasumber menegaskan bahwa membangun narasi positif di tengah badai disrupsi informasi di Sumatera Utara membutuhkan kerja sama sinergis dari semua elemen bangsa. Komitmen pelaku media di bawah payung JMSI untuk menyajikan berita bermutu harus berjalan seiring dengan bimbingan akademis dari para pakar komunikasi untuk menaikkan kelas literasi digital publik. Dengan ekosistem pers yang sehat, bertanggung jawab, serta masyarakat konsumen informasi yang kritis dan cerdas, ruang siber dapat dioptimalkan menjadi wadah pemersatu bangsa yang memajukan kecerdasan emosional dan intelektual warga secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....