Waspadai Fenomena Bediding

  • 18 Jul 2026 05:36 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Cuaca dingin akhir-akhir ini terasa lebih menusuk, terutama saat dini hari hingga menjelang pagi. Fenomena ini sering disebut masyarakat sebagai bediding, yaitu kondisi ketika suhu udara terasa lebih dingin dari biasanya pada musim kemarau. Meski umum terjadi, bediding tetap perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

Fenomena ini normal terjadi pada puncak musim kemarau (Agustus), tetapi pada tahun 2026 muncul lebih awal sejak Juni–Juli, “ ujar Gyarto, M.Kom (Ketua Tim Manajemen Sistem Operasional BMKG A.Yani Semarang) di Acara Siaran Tanggap Bencana yang disiarkan RRI Surakarta Selasa, 14 Juli 2026 pk.15.00 Wib.

Menurut BMKG, bediding tahun ini dipengaruhi oleh Fenomena El Niño dengan intensitas sedang, yang mengurangi curah hujan dan membuat musim kemarau lebih Panjang dan Monsun Australia, yang membawa massa udara dingin dan kering ke Indonesia.Akibatnya: Suhu udara terasa lebih dingin, terutama malam hari,Udara menjadi kering,Langit cenderung cerah dan biru dan resiko dehidrasi tetap tinggi meskipun cuaca terasa dingin.

Sementara di wilayah Karanganyar dengan adanya fenomena bediding sendiri seperti di Daerah lereng Gunung Lawu seperti Tawangmangu, Kemuning, Jenawi, dan Jatiyoso mengalami suhu Siang: sekitar 19–22°C dan malam: sekitar 16–19°Cbahkan Di kawasan Gunung Lawu suhu dapat mencapai sekitar 6°C.Masyarakat setempat relatif sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.

Dampak positif fenomena bediding AdalahPemandangan pegunungan lebih indah.Wisata alam menjadi lebih menarik dan ramai dikunjungi. Sedangkan dampak Negatifnya Adalah Risiko kekeringan meningkat.Potensi kebakaran hutan dan lahan bertambah.Produktivitas pertanian dapat menurun.Gangguan kesehatan seperti batuk, pilek, dan flu lebih sering terjadi.Tubuh lebih mudah mengalami dehidrasi karena udara kering.

Antisipasi dari BPBD Karanganyar dengan fenomena Bediding ini dengan melakukan Penyebaran informasi cuaca kepada Masyarakat,Koordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan, relawan, dan pengelola hutan, “ ujar Sugiharjo, S.I.P., M.M (Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karanganyar).

Musim kemarau diperkirakan lebih panjang dari biasanya.Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dan kondisi dingin masih bisa terasa hingga September.Sejumlah wilayah sudah mengalami 30–60 hari tanpa hujan.Risiko yang perlu diwaspadai meliputi kekeringan,kebakaran hutan/lahan,penurunan hasil pertanian,berkurangnya ketersediaan air bersih.

Fenomena bediding merupakan kondisi alam yang lazim terjadi saat musim kemarau, namun pada tahun 2026 datang lebih awal akibat kombinasi El Niño dan Monsun Australia. Meski memberikan manfaat bagi sektor wisata karena cuaca cerah dan pemandangan yang indah, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kekeringan, kebakaran, gangguan kesehatan, serta penurunan produktivitas pertanian. Pemerintah melalui BMKG dan BPBD mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti informasi cuaca, menjaga kesehatan, menggunakan air secara bijak, dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran. ( Ria )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....