Budaya: Kepingan yang Hilang dari Identitas Kota

  • 15 Jul 2026 19:49 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Kota bukan sekadar kumpulan beton, jalanan, dan jaringan pipa air. Kota adalah ruang hidup yang bernapas, tempat memori kolektif diendapkan dan identitas dirajut. Namun, kita kini menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan: penghilangan substansi budaya dalam lanskap kota.

Direktur Ambon Music Office (AMO), Ronny Loppies mengatakan, hilangnya musik yang tradisional, tergusurnya bangunan tua yang menyimpan sejarah, serta memudarnya kearifan lokal dalam tata kelola ruang adalah sinyal bahwa kota sedang kehilangan jiwanya.

Ia mengatakan, Pembangunan yang hanya berorientasi pada fisik semata tanpa mengindahkan memori masa lalu, telah mengubah wajah kota menjadi seragam, anonim, dan asing bagi warganya sendiri.

Terlebih lagi, bagi kawasan pesisir, perubahan lanskap yang drastis akibat reklamasi atau pembangunan beton di bibir pantai sering kali memutus hubungan masyarakat dengan ombak, ritual, dan ruang hidup yang membentuk karakter "anak pulau".

Loppies menekankan, ketika lanskap fisik berubah, cara pandang dan cara hidup masyarakat pun turut tergerus. Fenomena ini mendesak pengambil kebijakan kota untuk menyimak kembali: apakah kita sedang membangun kota, atau justru sedang menghapus jejak sejarah yang membentuk jati diri kita.

Budaya sebagai Infrastruktur, Bukan Aksesori. Argumen untuk menetapkan tujuan (goal) yang berdiri sendiri bagi budaya dalam perencanaan kota berakar pada prinsip dan kebutuhan mendesak. Di tengah era ketidakpastian, krisis ekologi, transformasi digital, dan terkikisnya kepercayaan publik, budaya bukanlah "hiasan" kota yang bisa ditunda kepentingannya. Budaya adalah infrastruktur.

Melalui memori dan inovasi, identitas dan dialog, serta kontinuitas dan imajinasi, budaya membekali masyarakat kota tidak hanya untuk bertahan menghadapi arus modernisasi, tetapi juga untuk membentuk masa depan kota yang lebih manusiawi.

Mengintegrasikan budaya sepenuhnya ke dalam kebijakan pembangunan kota memberikan manfaat nyata:

Tata Kelola Inklusif: Mendorong kebijakan yang menghargai keberagaman, memastikan pembangunan tidak hanya milik segelintir elit, tetapi mengakomodasi suara masyarakat adat, kelompok muda, dan komunitas marginal.

Lokalisasi Pembangunan: Menggunakan sistem pengetahuan lokal dalam memitigasi bencana atau mengelola ruang terbuka hijau yang selaras dengan iklim dan kearifan setempat.

Kohesi Sosial: Menciptakan ruang-ruang publik yang memfasilitasi pertemuan lintas budaya, memperkuat empati, dan meminimalisir konflik sosial di tengah kepadatan kota.

Belajar dari Krisis: Kerentanan dan Resiliensi. Pandemi COVID-19 membuka mata kita bahwa sektor budaya sangat rentan ketika kota "tutup". Namun, krisis tersebut juga menegaskan bahwa saat kota terisolasi, masyarakat beralih ke musik, cerita, dan konten budaya untuk bertahan. Seniman dan komunitas tradisional menjadi penjaga kewarasan kolektif, menyediakan ruang untuk berkabung, berharap, dan mengkritisi keadaan.

"Data dari laporan Konvensi UNESCO 2005 (2019-2024) memperkuat urgensi ini. Budaya yang tidak dilindungi oleh kerangka kebijakan jangka panjang berisiko hilang selamanya," ujar Loppies.

Tanpa intervensi yang serius, tekanan seperti perubahan iklim dan "monopoli digital" dalam ruang publik kota akan memperparah ketimpangan, terutama bagi perempuan dan anak perempuan di wilayah pesisir yang sering kali menjadi pihak paling terdampak oleh perubahan lingkungan.

Jalan ke Depan: Menuju Kota yang Berbudaya. Kota masa depan menuntut respons yang radikal. Kita membutuhkan komitmen untuk, Melindungi Ekosistem Budaya: Mengakui bahwa bangunan tua, tradisi lisan, dan lanskap alam pesisir adalah modal utama pembangunan yang harus dilindungi dari komodifikasi berlebih.

Memperluas Hak Budaya: Menjamin akses setiap warga kota untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya, terutama kelompok yang terpinggirkan.

Mengintegrasikan Budaya ke dalam Masterplan Kota: Menjadikan budaya sebagai indikator keberhasilan pembangunan, setara dengan pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur fisik.

Budaya adalah kepingan yang hilang dari teka-teki pembangunan kota kita. Mengembalikan kepingan ini berarti memulihkan hubungan antara manusia dengan kotanya, antara masa lalu dengan masa depan, serta antara pembangunan dengan keberlanjutan yang sesungguhnya. Bagaimana dengan Ambon City of Music.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....