Budaya Menghakimi di Media Sosial Ganggu Kesehatan Mental
- 15 Jul 2026 18:39 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Kebiasaan memberikan komentar negatif di media sosial dinilai tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga dapat memengaruhi karakter pelakunya. Fenomena ini menjadi perhatian karena semakin banyak pengguna internet yang terbiasa memberikan penilaian tanpa verifikasi terlebih dahulu.
Pegiat Literasi, Dr. W. Linda Yuhanna, M.Si. mengatakan budaya menghakimi dapat membentuk kebiasaan seseorang menjadi lebih reaktif dalam merespons berbagai isu. Jika terus dilakukan, perilaku tersebut berpotensi terbawa hingga ke kehidupan nyata.
Menurutnya, seseorang yang sering melontarkan komentar negatif akan lebih mudah menjadi pribadi yang cepat berprasangka dan sulit melakukan validasi informasi. Kondisi ini dapat menurunkan kualitas interaksi sosial baik di dunia maya maupun dunia nyata.
“Kita akan terbiasa ke arahnya gampang reaktif dan juga gampang nyinyir terhadap sesuatu hal,” jelas Linda.
Selain memengaruhi pelaku, dampak yang lebih berat juga dirasakan oleh korban komentar negatif. Ia menjelaskan bahwa ruang digital memiliki jangkauan yang sangat luas sehingga komentar yang merugikan dapat dilihat oleh banyak orang dalam waktu yang lama.
Linda menyebut jejak digital menjadi salah satu alasan mengapa perundungan di media sosial terasa lebih menyakitkan dibandingkan perundungan secara langsung. Komentar yang diunggah dapat terus muncul kembali meski peristiwa yang dibahas sudah lama berlalu.
“Kalau media sosial itu benar-benar tidak terbatas. Sekali memposting konten atau komentar, jejaknya bisa bertahan sangat lama,” ujarnya.
Ia mengingatkan pengguna media sosial untuk lebih berhati-hati dalam menulis komentar. Menurutnya, menjaga kesehatan mental di ruang digital membutuhkan empati dan kesadaran bahwa setiap akun mewakili manusia yang memiliki perasaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....