Studi Ungkap Baterai Mobil Listrik ternyata Lebih Tahan Lama

  • 11 Jul 2026 12:11 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Kekhawatiran calon pembeli soal umur baterai kendaraan listrik masih menjadi penghalang bagi banyak orang untuk beralih ke mobil listrik. Mereka khawatir komponen paling mahal pada kendaraan itu cepat menurun performanya dan membutuhkan biaya penggantian besar. Namun temuan terbaru menunjukkan anggapan tersebut mulai pudar.

Beberapa riset dan laporan industri, yang dikutip dari Digital Trends berdasarkan laporan The Wall Street Journal, mengungkapkan baterai mobil listrik modern memiliki daya tahan jauh lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya. Banyak kendaraan bahkan mampu mempertahankan sebagian besar jarak tempuhnya meski telah menempuh ratusan ribu kilometer.

Contoh nyata datang dari seorang dealer mobil bekas di Inggris, Richard Symons. Tesla Model 3 miliknya yang berusia lima tahun telah menempuh sekitar 397.000 kilometer namun masih layak digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Temuan serupa diamati oleh peneliti dan analis yang menyebut laju penurunan kapasitas baterai generasi baru berjalan lebih lambat dari perkiraan.

Perusahaan analitik baterai Recurrent memperkirakan rata-rata mobil listrik masih dapat mempertahankan sekitar 95 persen jarak tempuh awalnya setelah lima tahun pemakaian. Perbaikan ini dipengaruhi oleh perkembangan kimia baterai, sistem manajemen suhu yang lebih baik, serta perangkat lunak pengelola baterai yang menjaga kesehatan sel lebih efektif.

Data historis juga menunjukkan penurunan kebutuhan penggantian baterai. Recurrent mencatat sekitar satu dari 12 mobil listrik produksi 2011–2016 membutuhkan penggantian baterai, sedangkan pada kendaraan produksi mulai 2022 angka itu turun drastis menjadi sekitar 0,3 persen.

Meski bukti soal ketahanan meningkat, persepsi konsumen belum sepenuhnya berubah. Survei AutoPacific 2025 menunjukkan kekhawatiran biaya penggantian baterai masih menjadi alasan utama calon pembeli menunda keputusan. Jessica Caldwell dari Edmunds mengatakan banyak konsumen masih ragu meski data keandalan terus membaik.

Ahli juga menekankan bahwa baterai tidak sepenuhnya kebal terhadap degradasi. Pengisian cepat DC berdaya tinggi secara rutin cenderung mempercepat penurunan kapasitas dibanding pengisian lambat. Menurut data Geotab, kendaraan yang sering mengandalkan fast charging rata-rata memiliki kapasitas sekitar 89,7 persen setelah beberapa tahun, sementara kendaraan yang jarang menggunakan fast charging mempertahankan sekitar 94,9 persen.

Kebiasaan lain yang memengaruhi umur baterai adalah sering mengisi hingga 100 persen, membiarkan baterai kosong terlalu lama, dan penggunaan di suhu ekstrem. Soal biaya, penggantian baterai di luar garansi masih relatif mahal, berkisar antara US$ 5.000 hingga US$ 16.000 (sekitar Rp 90 juta–Rp 288 juta). Namun banyak produsen kini merancang modul baterai yang dapat diperbaiki sebagian sehingga tidak perlu mengganti seluruh unit, sehingga biaya perawatan bisa ditekan.

Dengan bukti keandalan yang semakin kuat, analis menilai kepercayaan publik terhadap kendaraan listrik berpotensi meningkat, asalkan konsumen juga diberi informasi mengenai praktik pengisian dan perawatan baterai yang benar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....