Love Scamming menghancurkan Finansial dan Mental Korban

  • 07 Jul 2026 15:50 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Selasa ( 7/7/2026 ) pagi, mengangkat isu kejahatan siber yang marak terjadi namun sering kali tersembunyi karena faktor rasa malu korban, yaitu dalam tajuk "Mengungkap Bahaya Love Scamming". Diskusi interaktif ini menghadirkan dua pakar yang membedah fenomena ini dari sudut pandang kesehatan mental dan sains komunikasi, yaitu Fadhilla Fajrah, S.Psi., M.Psi., Psikolog. (Akademisi Universitas Potensi Utama) dan Dr. Dr. Sigit Hardiyanto, M.I.Kom. (Sekretaris Prodi Magister Ilmu Komunikasi UMSU). Fokus utama dalam dialog ini adalah menguliti modus operandi para pelaku penipuan berkedok cinta asmara digital, dampaknya yang menghancurkan secara finansial maupun mental, serta langkah preventif agar masyarakat tidak terjebak dalam manipulasi emosional di ruang siber.

Dari perspektif kesehatan mental dan perilaku manusia, Fadhilla Fajrah memaparkan bagaimana para pelaku love scamming memanfaatkan kerentanan psikologis korban, seperti rasa kesepian, kebutuhan akan afeksi, atau fase pencarian jati diri. Sebagai seorang psikolog, ia menjelaskan bahwa pelaku umumnya melakukan teknik manipulasi emosi yang sangat halus (seperti love bombing) guna membangun kedekatan emosional yang intens dan mematikan nalar logis korban dalam waktu singkat. Dampak psikologis yang dialami korban ketika penipuan tersebut terbongkar sering kali jauh lebih menyakitkan daripada kerugian materi, sebab korban harus menghadapi trauma berlapis akibat pengkhianatan emosional, perasaan bersalah yang mendalam, hingga penolakan sosial dari lingkungan sekitar yang kerap kali justru melakukan victim blaming.

Sementara itu, dari sudut pandang strategi dan pola komunikasi digital, Dr. Sigit Hardiyanto menyoroti kecanggihan teknik komunikasi persuasif yang digunakan oleh para penipu di media sosial maupun aplikasi kencan (dating apps). Sebagai ahli ilmu komunikasi, ia menerangkan bahwa pelaku love scamming biasanya membangun identitas palsu yang sangat terstruktur—mulai dari penggunaan foto profil yang menarik, narasi profesi yang mapan (seperti tentara, ekspatriat, atau pengusaha), hingga penggunaan bahasa yang sangat menyentuh hati guna menciptakan ilusi hubungan jarak jauh (LDR) yang meyakinkan. Ia menekankan pentingnya penguatan literasi digital dan skeptisisme sehat dalam berkomunikasi dengan orang asing di internet; masyarakat harus jeli melakukan verifikasi identitas (seperti reverse image search atau panggilan video langsung) dan segera menaruh curiga mutlak apabila komunikasi tersebut sudah mulai mengarah pada permintaan uang, pengiriman aset, atau pembagian data pribadi yang sensitif.

Diakhir dialog narasumber menegaskan bahwa love scamming bukan sekadar masalah penipuan biasa, melainkan bentuk kejahatan siber berbasis manipulasi psikologis yang sangat terorganisir. Melindungi diri dari ancaman ini membutuhkan sinergi antara kewaspadaan emosional individu dan pemahaman yang matang mengenai cara kerja komunikasi siber yang sehat. Dengan masifnya edukasi mengenai tanda-tanda bahaya (red flags) penipuan romansa ini oleh kalangan akademisi serta meningkatnya kesadaran masyarakat untuk lebih rasional dalam bersosialisasi secara digital, diharapkan ruang siber dapat menjadi tempat yang lebih aman dan terhindar dari jerat manipulasi yang merugikan lahir maupun batin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....