Rencana Lima Tahun Jepang Dongkrak Ekonomi Lewat Anime
- 30 Jun 2026 21:19 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID,Bogor - Jepang secara resmi meluncurkan rencana strategis lima tahun untuk memberikan dukungan pembiayaan produksi bagi industri anime dan gim video. Langkah besar yang diumumkan oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) ini dirancang khusus untuk memperbaiki kondisi kerja para kreator lokal sekaligus mendongkrak perekonomian negara melalui optimalisasi jalur ekspor. Kebijakan ini diambil setelah industri anime Jepang mencetak sejarah baru dengan meraih pendapatan tertinggi sepanjang masa pada tahun 2023. Berdasarkan data Asosiasi Animasi Jepang (AJA) yang dilansir NHK News, total pendapatan industri ini melonjak lebih dari 14% hingga menembus angka 3,3 triliun yen atau setara dengan 21 miliar dolar AS.
Dilansir NHK News pertumbuhan masif tersebut memperkokoh posisi sektor hiburan sebagai pilar ekspor terbesar kedua bagi Jepang, tepat di belakang industri otomotif yang memimpin dengan nilai pengiriman lebih dari 21 triliun yen. Tercatat pada tahun 2023, penjualan luar negeri di bidang hiburan telah mencapai 5,8 triliun yen, melesat tajam dari angka 1 triliun yen pada tahun 2010 lalu. Melalui pembaruan Cool Japan Strategy, pemerintah Jepang kini menetapkan target jangka panjang yang ambisius untuk mendongkrak penjualan internasional sektor hiburan hingga mencapai 20 triliun yen pada tahun 2033. Dalam cetak biru tersebut, industri gim video ditargetkan menyumbang lebih dari 2 triliun yen, sementara sisa target besar lainnya akan ditopang penuh oleh industri anime.
Secara keseluruhan, program Cool Japan membidik perputaran ekonomi hingga 50 triliun yen atau sekitar Rp5,2 kuadriliun per tahun pada 2033 mendatang. Ruang lingkup target tersebut mencakup komoditas ekspor konten, produk pertanian, mode, kosmetik, hingga sektor pariwisata. Di balik kesuksesan globalnya, sektor anime domestik Jepang saat ini justru tengah berjuang melawan krisis kelangkaan tenaga kerja terampil. Masalah upah yang stagnan dan jam kerja yang sangat panjang selama ini menjadi pemicu utama yang membuat banyak kreator berbakat memilih meninggalkan industri tersebut. Menanggapi situasi kritis ini, pemerintah Jepang mulai mengkaji mekanisme peningkatan gaji serta pemangkasan jam kerja agar ekosistem kerja menjadi lebih sehat dan tetap produktif menghasilkan keuntungan.
Selain masalah kesejahteraan pekerja, pemerintah Jepang juga mulai mengantisipasi tantangan hukum di era digital, khususnya mengenai perlindungan hak kekayaan intelektual dari ancaman teknologi. Salah satu fokus utamanya adalah menyusun regulasi ketat untuk mengatasi masalah hukum seputar pemanfaatan AI generatif, seperti maraknya fenomena "pengisi suara kecerdasan artifisial" (AI voice actors) yang menciptakan suara sintetis tiruan berdasarkan karakteristik orang nyata tanpa izin. Guna meningkatkan kualitas inovasi dan perlindungan kekayaan intelektual ini, Jepang juga menargetkan peningkatan jumlah pemegang gelar doktor di dalam negeri. Pemerintah berharap langkah penegakan hukum anti-pembajakan seperti investigasi ketat juga tidak dikurangi karena hal tersebut berpotensi merugikan negara serta industri anime.
Tantangan berat lain yang diantisipasi dalam rencana lima tahun ini adalah masifnya konten bajakan di pasar internasional yang ditaksir memicu kerugian industri global hingga mencapai 2 triliun yen. Demi menekan angka pembajakan tersebut, pemerintah Jepang berkomitmen memperketat investigasi dan penegakan hukum melalui kerja sama erat dengan berbagai kelompok aliansi perusahaan anime. Kendati dihantam isu pembajakan, permintaan global terhadap produk turunan anime terbukti tidak terbendung di berbagai belahan dunia. Pasar luar negeri tercatat menyumbang pendapatan bersih sebesar 11 miliar dolar AS, atau naik 18% dari tahun sebelumnya.
Nilai fantastis tersebut didominasi oleh ekspor merchandise resmi sebesar 4,5 miliar dolar AS serta kontrak distribusi internasional yang melonjak hingga 50% dengan nilai 1,6 miliar dolar AS. Tingginya angka penjualan ini menempatkan kedua kategori tersebut di posisi dua teratas dalam survei pendapatan industri anime. Perwakilan dari Asosiasi Animasi Jepang, Masuda Hiromichi, menegaskan bahwa akses internet memegang peranan krusial terhadap lonjakan permintaan pasar internasional ini. Melalui jaringan internet, distribusi konten menjadi jauh lebih mudah dan cepat diakses oleh publik.
Masuda Hiromichi optimis industri anime akan semakin populer dan terus memperluas basis penggemar barunya secara global maupun domestik di masa mendatang. Semakin banyak negara yang mengadopsi budaya anime, membuat permintaan akan produk-produk terkait seperti layanan streaming terus meningkat. Melalui komitmen regulasi baru ini, Jepang berharap dapat mengamankan ekosistem kreatifnya sekaligus mempertahankan dominasi ekonominya di panggung dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....