Gelombang Panas Picu Warga Eropa Berebut AC dan Kipas
- 28 Jun 2026 18:52 WIB
- Lhokseumawe
RRI. CO. ID, Lhokseumawe – Gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Eropa dalam beberapa hari terakhir memicu lonjakan permintaan pendingin ruangan (AC) dan kipas angin. Di sejumlah negara, masyarakat berbondong-bondong membeli perangkat pendingin untuk menghadapi suhu yang menembus rekor tertinggi, membuat stok di beberapa toko cepat menipis.
Fenomena ini menjadi perubahan besar bagi masyarakat Eropa. Selama bertahun-tahun, banyak rumah di kawasan tersebut tidak dilengkapi AC karena musim panas biasanya berlangsung singkat dan suhu masih dapat ditoleransi. Sebagian besar bangunan juga dirancang untuk mempertahankan kehangatan saat musim dingin, bukan untuk menghadapi cuaca panas ekstrem.
Namun, kondisi tahun ini berbeda. Gelombang panas yang dipicu kubah panas (heat dome) menyebabkan suhu di sejumlah negara seperti Spanyol, Portugal, Prancis, Jerman, Italia, Inggris, Denmark, Swiss, dan Republik Ceko mencapai kisaran 40 hingga lebih dari 42 derajat Celsius. Beberapa wilayah bahkan mencatat rekor suhu tertinggi dalam sejarah pengamatan cuaca.
Akibatnya, toko elektronik dan pusat perbelanjaan mengalami lonjakan pembelian kipas angin serta AC portabel maupun permanen. Produsen elektronik dari Asia, termasuk Korea Selatan, China, dan Jepang, melaporkan peningkatan pesanan dari pasar Eropa karena permintaan yang melonjak tajam.
Selain meningkatkan penjualan perangkat pendingin, cuaca ekstrem juga menyebabkan konsumsi listrik melonjak. Penggunaan AC dan kipas secara bersamaan membuat permintaan energi meningkat drastis sehingga harga listrik di sejumlah negara naik dan operator jaringan listrik harus menyiapkan pasokan tambahan untuk menghindari gangguan.
Gelombang panas juga membawa dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Di Prancis, otoritas kesehatan melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih (excess deaths) selama periode gelombang panas, terutama pada kelompok lanjut usia. Rumah sakit di berbagai negara turut mengalami lonjakan pasien akibat gangguan kesehatan yang berkaitan dengan suhu ekstrem.
Di sejumlah kota, pemerintah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem, membuka pusat pendinginan bagi warga, mengurangi aktivitas luar ruangan, hingga menyesuaikan jam kerja dan kegiatan sekolah untuk mengurangi risiko paparan panas. Infrastruktur transportasi dan jaringan listrik pun ikut terdampak akibat suhu yang sangat tinggi.
Para ilmuwan menilai gelombang panas yang semakin sering terjadi merupakan salah satu dampak perubahan iklim. Eropa disebut sebagai salah satu kawasan yang mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Kondisi tersebut diperkirakan akan mendorong semakin banyak rumah tangga di Eropa memasang AC atau memilih solusi pendinginan lain sebagai bagian dari adaptasi terhadap cuaca ekstrem di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....