Distribusi Logistik di Indonesia Masih Hadapi Kendala

  • 28 Jun 2026 10:18 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tantangan logistik di Indonesia, tidak hanya terkait infrastruktur maupun transportasi. Tetapi juga minimnya pertukaran data antar pelaku rantai pasok, yang menyebabkan sistem distribusi barang rentan mengalami inefisiensi dan sulit beradaptasi ketika terjadi gangguan.

Manajer Riset The Logistics Institute Asia Pacific (TLI-AP), National University of Singapore (NUS) Dr. Giuseppe Timperio menyampaikan, manajemen logistik tidak hanya bicara pergerakan barang. Tetapi juga mencakup berbagai hal.

”Mulai proses desain, produksi, pengadaan bahan baku, hingga barang sampai ke konsumen,” katanya dalam diskusi di UMY, Sabtu, 27 Juni 2026. ”Banyak pihak terlibat di dalamnya, mulai pemasok, produsen, distributor, hingga pengecer.”

Sehingga, dalam rantai pasok yang melibatkan begitu banyak pemangku kepentingan, masing-masing memiliki sistem, data, serta prioritasnya sendiri. Dan faktanya, masih sangat sedikit platform, protokol, maupun insentif yang memungkinkan para pelaku tersebut berbagi data satu sama lain.

Banyak organisasi berhasil mengoptimalkan operasionalnya masing-masing, meski belum tentu menghasilkan sistem logistik yang efisien secara keseluruhan. Salah satu persoalan utama yang muncul dalam rantai pasok modern adalah, setiap pihak berfokus pada target organisasinya sendiri.

”Tanpa melihat keterkaitan dengan aktor lain dalam pola jaringan distribusi,” katanya. ”Ketika koneksi di antara mereka tidak berjalan baik, kita tidak bisa mengatakan bahwa sistem secara keseluruhan sudah optimal.”

Kurangnya koordinasi makin terlihat saat terjadi disrupsi, terutama saat pandemi Covid-19, yang memicu lonjakan permintaan masker dan hand sanitizer. Ketika informasi tidak terhubung, gangguan pada satu titik dapat menyebar dan membesar.

Ketika terjadi lonjakan permintaan masker, informasi bergerak ke distributor, produsen, hingga pemasok bahan baku. Karena tidak ada informasi yang terintegrasi, setiap pihak mulai memesan, memproduksi dan menyimpan banyak stok masker.

”Beberapa tahun setelah pandemi, kita bahkan melihat stok hand sanitizer berlebih,” ujarnya. ”Karena sebelumnya atau saat pandemi, diproduksi jauh melebihi kebutuhan sebenarnya.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....