Toleransi Tak Cukup Viral, Anak Muda Perlu Bertindak Nyata
- 26 Jun 2026 18:50 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Nilai toleransi di tengah keberagaman Indonesia tidak cukup hanya ditampilkan melalui unggahan media sosial. Generasi muda didorong untuk menghadirkan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari guna menjaga persatuan dan kerukunan bangsa.
Dalam dialog Beranda Asta Cita, Moderasi Beragama, Pro 1 RRI Surabaya bertema “Toleransi Jangan Cuma Jadi Konten: Anak Muda, Media Sosial, dan Aksi Nyata Merawat Indonesia”, Ketua Young Buddhist Association (YBA) Limanyono Tanto menegaskan bahwa toleransi harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar narasi di ruang digital.
“Toleransi tidak boleh berhenti sebagai konten yang viral di media sosial. Anak muda harus menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari melalui dialog, kerja sama, dan kepedulian kepada sesama tanpa memandang perbedaan,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia memiliki keberagaman suku, agama, dan budaya yang harus dijaga bersama. Oleh karena itu, generasi muda memiliki peran strategis sebagai agen perdamaian dan persatuan.
Sementara itu, Wakil Ketua Harian YBA, David Nugraha menilai media sosial memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi menjadi sarana menyebarkan pesan perdamaian, namun di sisi lain dapat memicu polarisasi apabila digunakan secara tidak bijak.
“Media sosial dapat menjadi ruang yang positif apabila digunakan untuk edukasi dan membangun dialog. Namun jika tidak disertai literasi digital, ruang tersebut juga dapat memunculkan ujaran kebencian dan perpecahan. Untuk itu sangat penting bagaimana kita memiliki sudut pandang terhadap persoalan yang terjadi,” jelasnya.
Ia menambahkan, kampanye toleransi di dunia digital perlu diikuti dengan kegiatan nyata seperti bakti sosial, diskusi lintas agama, dan aksi kemanusiaan yang melibatkan berbagai kalangan.
Senada dengan itu, Clea Alvina mengatakan generasi muda perlu membangun keberanian untuk berinteraksi dan berteman dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya. Terlebih dengan seringnya berselancar di dunia digital, seperti media sosial, maka setiap individu harus memiliki aware atau kesadaran terhadap paparan konten digital.
“Toleransi dimulai dari hal-hal sederhana, seperti saling menghormati, mau mendengarkan, dan membuka ruang pertemanan dengan mereka yang berbeda. Jangan sampai media sosial atau ruang digital, yang seharusnya bisa digunakan untuk menebar kebaikan, malah menjadi ajang untuk pertengkaran,” ungkapnya.
Menurutnya, keterlibatan anak muda dalam kegiatan sosial dan komunitas lintas agama dapat memperkuat rasa persaudaraan serta mengurangi prasangka yang selama ini berkembang di masyarakat. Untuk itu, harapannya generasi muda tidak hanya menjadi konsumen media sosial, tetapi juga menjadi pelaku perubahan yang mampu menjaga kerukunan dan persatuan Indonesia, serta mendorong penguatan moderasi beragama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....