Keluarga Mengembalikan Esensi Kehadiran Ayah dalam Pengasuhan Modern
- 22 Jun 2026 16:15 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Senin ( 22/6/2026 ) pagi, membahas sebuah fenomena sosial yang memprihatinkan, saat ini di Indonesia sering kali dikategorikan sebagai negara yang "kekurangan figur ayah" (fatherless country). Kondisi ini bukan berarti sang ayah tidak ada secara fisik di rumah, melainkan karena absennya keterlibatan mental, emosional, dan spiritual mereka dalam keseharian anak akibat terlalu berfokus pada peran tunggal sebagai pencari nafkah. Prof. Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si (Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) sebagai narasumber menegaskan bahwa pengasuhan anak bukanlah tugas eksklusif seorang ibu, melainkan tanggung jawab kolektif yang setara antara kedua orang tua. Ketika seorang ayah memilih untuk pasif, anak kehilangan kompas penting dalam pertumbuhan emosionalnya, yang sering kali berdampak pada munculnya masalah perilaku, krisis identitas, hingga kerentanan psikologis saat mereka beranjak remaja.
Dari perspektif psikologi praktis, Dr. Sunarto, S.Psi., M.Psi. Psikolog (Konsultan SDM & Pendidikan Biro Psikologi Marsha Puntadewa Medan) yang juga menjadi narasumber membedah bagaimana kehadiran aktif seorang ayah memberikan dampak yang sangat spesifik dan tidak tergantikan bagi struktur kepribadian anak. Ayah adalah sosok yang secara natural melatih anak untuk berani menghadapi dunia luar, mengambil risiko yang terukur, dan menumbuhkan logika pemecahan masalah yang kuat. Interaksi fisik yang khas antara ayah dan anak, seperti bermain aktif atau berolahraga bersama, merupakan simulasi penting bagi anak untuk belajar meregulasi emosi, memahami batasan, dan menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Oleh karena itu, para narasumber sepakat mendorong perubahan paradigma di masyarakat agar para ayah di Sumatra Utara dan Indonesia pada umumnya, mulai mengambil peran sadar sebagai sahabat, pendengar yang baik, serta teladan utama bagi anak-anak mereka.
Diakhir dialog narasumber memberikan saran agar menjadi sebuah seruan penting bagi setiap keluarga untuk mendefinisikan ulang arti kesuksesan seorang ayah. Sukses sejati seorang kepala keluarga tidak hanya diukur dari materi yang dibawa pulang, tetapi dari seberapa besar kualitas waktu dan perhatian yang ia investasikan di dalam rumah. Dengan mengembalikan kedekatan emosional antara ayah dan anak, keluarga tidak hanya sedang menyembuhkan fenomena fatherless, tetapi juga sedang membangun fondasi generasi masa depan yang tangguh, berkarakter, dan matang secara psikologis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....