Keteladanan Siti Hajar Menjawab Tantangan Perempuan Modern Masa Kini
- 30 Mei 2026 07:47 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Beragam tantangan yang dihadapi perempuan modern, mulai dari tuntutan karier, peran dalam keluarga, tekanan sosial media, hingga persoalan kesehatan mental, menjadi perhatian bersama. Dalam program Mutiara Pagi, Sabtu, 30 Mei 2026, Ustadzah Desy Anindia Rosyida, M.Pd.I dari Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Blitar mengatakan kisah Siti Hajar tidak hanya relevan sebagai sejarah Islam, tetapi juga menjadi refleksi bagi perempuan yang hidup di tengah kompleksitas zaman modern.
Menurutnya, perempuan saat ini sering dihadapkan pada berbagai ekspektasi sekaligus, baik sebagai ibu, istri, pekerja, maupun individu yang dituntut untuk selalu tampil sempurna. "Perempuan modern menghadapi tekanan yang berbeda dengan masa lalu. Mereka dituntut berhasil di berbagai bidang dalam waktu yang bersamaan. Kondisi ini sering memunculkan kelelahan fisik maupun mental," ujarnya.
Desy menjelaskan bahwa perjuangan Siti Hajar saat ditinggalkan bersama putranya, Ismail, di padang gurun merupakan gambaran tentang ketangguhan perempuan dalam menghadapi situasi sulit dan penuh ketidakpastian. Ketika menghadapi krisis, Siti Hajar tidak hanya pasrah, tetapi juga melakukan ikhtiar dengan berlari antara Bukit Shafa dan Marwah untuk mencari sumber kehidupan bagi anaknya.
"Keteladanan Siti Hajar mengajarkan bahwa perempuan boleh merasa lelah, tetapi tidak boleh kehilangan harapan. Ia menunjukkan bahwa ikhtiar harus terus dilakukan, meskipun hasilnya belum terlihat," ujarnya.
Menurutnya, nilai tersebut sangat relevan dengan kondisi perempuan masa kini yang sering menghadapi persoalan ekonomi keluarga, pengasuhan anak, hingga tantangan menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Selain itu, ia menyoroti fenomena meningkatnya tekanan sosial akibat perkembangan teknologi dan media sosial.
Banyak perempuan yang terjebak dalam budaya perbandingan diri sehingga merasa kurang berhasil, kurang cantik, atau kurang produktif dibanding orang lain. "Mengambil hikmah dari kisah Siti Hajar, mengajarkan pentingnya fokus pada tujuan hidup dan tidak menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran utama keberhasilan. Karena kekuatan perempuan lahir dari keyakinan, kepercayaan diri, dan kesadaran akan peran penting yang dimilikinya dalam keluarga maupun masyarakat," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun solidaritas antarperempuan di tengah berbagai tantangan sosial yang ada saat ini. Perempuan, katanya, perlu saling menguatkan dan membuka ruang dukungan, bukan justru saling menghakimi atau membandingkan.
Untuk itu, ia menekankan bahwa Idul Adha adalah cara Allah SWT mengajarkan nilai-nilai ketangguhan, kesabaran, dan keimanan yang dicontohkan Siti Hajar, tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan perempuan modern. Dari padang gurun yang sunyi hingga kehidupan yang serba cepat di era digital, semangat Siti Hajar menjadi inspirasi bahwa perempuan mampu bertahan, bangkit, dan mengambil peran penting dalam membangun peradaban.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....