Jaga Pelita Iman di tengah Badai Digital
- 15 Mei 2026 12:08 WIB
- Lhokseumawe
Poin Utama
- Bendahara Tastafi Kota Lhokseumawe mengajak umat memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an agar tidak tersesat di media sosial.
- Anak-anak perlu diajarkan adab menghormati orang tua dan guru sejak dini.
- Masyarakat diajak memakmurkan masjid dan tetap bangga menjadi muslim taat di tengah godaan zaman.
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Dunia sedang berlari kencang dalam dekapan teknologi, di mana jempol manusia lebih lincah menari di layar ponsel ketimbang menengadah dalam doa.
Tgk. H. Ir. Mirza Gunawan yang menjabat sebagai Bendahara Tasawuf Tauhid dan Fiqh (Tastafi) Kota Lhokseumawe, dalam kepada RRI mengatakan menjaga nilai Islam di era modern seperti merawat pelita di tengah badai.
Menurutnya, meski angin perubahan bertiup kencang, cahaya iman tidak boleh padam karena Islam bukan sekadar warisan nenek moyang, melainkan petunjuk sepanjang zaman bagi umat manusia.

Sekretaris Umum Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Kota Lhokseumawe itu menambahkan, perkembangan teknologi hari ini membawa tantangan baru bagi kehidupan spiritual masyarakat.
Bahkan, Ia menyoroti kenyataan bahwa banyak anak lebih hafal password wifi dibanding hafalan surat pendek Al-Qur’an. “Jempol semakin lincah menari di layar ponsel, tetapi hati jangan sampai kehilangan arah dan akal,” ujarnya.
Menurutnya, hati yang kosong dari nilai-nilai Al-Qur’an ibarat rumah tanpa lampu, gelap dan mudah dimasuki kegelisahan serta godaan negatif dari jagat maya. Di tengah derasnya arus informasi yang menyesatkan, kedekatan dengan kalam Ilahi dinilai menjadi kompas agar manusia tidak tersesat di rimba digital yang semakin tak bertepi.

Ia juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Bagi Tgk. Mirza Gunawan, perubahan zaman tidak perlu ditakuti, namun yang harus dijaga adalah jangan sampai iman ikut berganti dan larut dalam derasnya arus dunia modern.
Selain spiritualitas pribadi, Sekretaris Umum HUDA Kota Lhokseumawe itu menilai penguatan akhlak dalam keluarga menjadi benteng kedua yang sangat penting. Ia mengingatkan para orang tua agar tidak hanya membekali anak-anak dengan gawai tercanggih, tetapi juga menanamkan adab, rasa hormat, dan kesantunan. Menurutnya, kecerdasan pikiran harus berjalan seiring dengan kemuliaan perilaku demi membangun generasi yang kuat secara moral dan intelektual.
Mengutip pesan Ali bin Abi Thalib tentang mendidik anak sesuai zamannya, Bendahara Tastafi Kota Lhokseumawe tersebut menegaskan bahwa Islam tidak anti terhadap kemajuan. Justru, Islam mengajarkan umatnya agar mampu menjadikan teknologi sebagai sarana dakwah dan ladang pahala, bukan alat penyebar amarah maupun permusuhan. “Media sosial bisa menjadi ladang pahala asal jari kita lebih sering menebar hikmah daripada menebar amarah,” katanya.
Lebih lanjut, Tgk. Mirza Gunawan mendorong agar masjid kembali menjadi pusat gravitasi iman dan persaudaraan, bukan sekadar persinggahan musiman saat Ramadhan. Menurutnya, menjadi muslim taat di tengah derasnya godaan zaman memang tidak mudah, layaknya ikan yang berenang melawan arus. Namun justru di situlah letak kemuliaannya.
Sebagai penutup, Sekretaris Umum HUDA Kota Lhokseumawe itu berpesan kepada seluruh masyarakat agar menjaga nilai-nilai agama menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas ulama dan tokoh agama. Zaman boleh berubah dan teknologi boleh berada di genggaman tangan, namun Al-Qur’an harus tetap hidup dalam hati dan kehidupan.
Ia pun menutup pesannya dengan pantun penuh makna:
Pergi ke sawah menanam pandan,
Pulang membawa buah delima.
Zaman boleh berubah perlahan,
Namun iman jangan berubah selamanya.
Naik perahu menuju seberang,
Singgah sebentar membeli kurma.
Kalau dunia makin berkembang,
Akhlak mulia jangan sirna.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....