Tren Phubbing, Benarkah Acuh pada Kondisi Sekitar
- 20 Apr 2026 11:18 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Fenomena phubbing kini menjadi pemandangan lumrah di mana seseorang lebih asyik dengan ponselnya daripada mengobrol dengan orang di dekatnya. Istilah ini lahir dari gabungan kata phone dan snubbing yang menggambarkan perilaku pengabaian sosial demi dunia maya. Jika terus dibiarkan, kebiasaan ini akan mengikis kualitas interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Laman umsida.ac.id menyebutkan dampak dari tren ini sangat terasa pada keretakan hubungan interpersonal dan penurunan rasa empati antarindividu. Banyak orang merasa tidak dihargai atau diabaikan saat lawan bicaranya terus menerus memeriksa notifikasi di tengah percakapan sehingga emosional dalam berkomunikasi mulai hilang dan digantikan kesunyian yang canggung.
Secara psikologis, phubbing sering kali dipicu oleh rasa takut tertinggal informasi atau yang populer disebut dengan istilah FOMO. Ketergantungan pada validasi di media sosial membuat individu merasa harus selalu terhubung dengan perangkat digital mereka setiap saat.
Kesehatan mental juga menjadi taruhan ketika seseorang terjebak dalam siklus penggunaan gawai yang berlebihan secara impulsif. Rasa cemas dan depresi sering kali muncul akibat kurangnya koneksi nyata yang berkualitas dengan orang-orang terdekat di sekitar.
Sebagai solusi awal, setiap individu perlu menetapkan batasan waktu yang tegas dalam menggunakan perangkat digital saat sedang bersosialisasi. Kita bisa mulai dengan menerapkan aturan "tanpa ponsel" di meja makan agar fokus perhatian sepenuhnya kepada orang-orang yang kita cintai.
Menghargai keberadaan orang lain dengan cara menyimpan ponsel saat berbicara adalah bentuk penghormatan paling dasar dalam komunikasi. Masyarakat perlu diingatkan kembali bahwa kehadiran fisik yang utuh jauh lebih berharga daripada sekadar balasan pesan singkat.
Teknologi seharusnya berfungsi sebagai alat pendukung komunikasi, bukan justru menjadi penghalang utama dalam membangun relasi manusiawi. Dengan kendali diri yang kuat, keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata dapat tercapai secara harmonis.
Menghidupkan kembali tradisi tatap mata dan mendengarkan secara aktif adalah kunci utama solusi masalah ini. Mari prioritaskan momen berharga bersama orang-orang di sekitar tanpa gangguan layar yang terus-menerus memecah konsentrasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....