Melihat Tantangan Kesejahteraan Nelayan dan Perubahan Iklim di Pesisir Sumut
- 06 Apr 2026 12:50 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Tingginya Harga Bahan Bakar dan Sulitnya Akses BBM Bersubsidi: Ini menjadi keluhan umum nelayan kecil. Kenaikan harga solar atau kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi secara signifikan meningkatkan biaya operasional, yang pada gilirannya mengurangi pendapatan mereka. Hal ini dikatakan Ahmad Raju, S.H. ( Wakil Sekretaris DPD KNTI Medan )saat ditanyakan berbagai tantangan dan permasalahan krusial yang dihadapi para nelayan di Sumatera Utara dalam upaya mencapai kesejahteraan dalam acara dialog Aspirasi Sumut di Programa 1 FM 94,3 MHz RRI Medan, Senin ( 6/4/2026 ) pagi.
Labih lanjut Ahmad Raju mengatakan bahwa alat tangkap dan infrastruktur yang kurang memadai, misalnya nelayan tradisional seringkali masih mengandalkan alat tangkap sederhana yang kurang efisien. Selain itu, fasilitas pelabuhan perikanan, seperti tempat sandar, gudang penyimpanan ikan, dan akses air bersih, masih jauh dari kata memadai.
“ Penurunan hasil tangkapan ikan akibat overfishing, perusakan ekosistem laut (seperti terumbu karang), dan dampak perubahan iklim, populasi ikan terus menurun drastis. Kondisi ini secara langsung berdampak negatif pada pendapatan nelayan, “ jelas Ahmad Raju.
Persaingan dengan kapal besar atau nelayan modern sebagai contoh nelayan tradisional menghadapi persaingan ketat dari kapal-kapal besar yang dilengkapi teknologi lebih canggih dan memiliki jangkauan operasi yang lebih luas. Perubahan cuaca ekstrem yang sering terjadi kondisi cuaca yang tidak menentu atau badai seringkali menghalangi nelayan untuk melaut, menyebabkan mereka kehilangan mata pencarian selama periode tertentu.
Kemudian Ahmad Raju menjelaskan tentang keterbatasan modal dan akses kredit, banyak nelayan kesulitan mendapatkan modal untuk memperbaiki perahu, membeli alat tangkap baru, atau membiayai usaha lainnya. Akses terhadap pinjaman perbankan yang mudah juga terbatas. Kurangnya Perlindungan dan Jaminan Sosial: Mayoritas nelayan tidak memiliki asuransi kesehatan, asuransi jiwa, atau jaminan sosial lainnya, membuat mereka sangat rentan terhadap risiko kecelakaan kerja atau penyakit. Kebutuhan akan pelatihan dan pemberdayaan nelayan memerlukan pelatihan untuk meningkatkan teknik penangkapan ikan yang berkelanjutan, pengolahan hasil laut, serta keterampilan lain guna meningkatkan nilai jual produk mereka.
Diakhir dialog Ahmad Raju memberikan harapan kepada Pemerintah agar dialog ini menjadi wadah penting bagi nelayan untuk menyampaikan aspirasi dan harapan agar pemerintah daerah dapat mengatasi berbagai tantangan tersebut melalui kebijakan yang pro-nelayan.
Sementara itu, Dr. Drs. H. Aripay Tambunan, M.M. ( Komisi B DPRD Sumut ) yang juga menjadi narasumber Dialog Aspirasi Sumut, menanggapi isu kesejahteraan nelayan, menyampaikan pandangan yang kritis namun konstruktif. Beliau menekankan pada perlunya intervensi pemerintah yang efektif, perbaikan sistem distribusi yang adil, penyediaan jaminan sosial yang memadai, serta peningkatan kapasitas dan pendidikan bagi para nelayan. Semua upaya ini, menurut Dr. Aripay, krusial untuk mencapai kesejahteraan nelayan yang berkelanjutan. Dialog ini diharapkan dapat menjadi masukan penting bagi pembuat kebijakan dalam merumuskan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan taraf hidup nelayan di Sumatera Utara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....