Studi Tunjukkan Gen Z Rentan Kesepian di Kantor

  • 23 Feb 2026 10:21 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Kelompok usia yang lahir di pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an—selama ini identik dengan generasi yang luwes di dunia digital dan aktif bersosialisasi di media sosial. Namun, sejumlah penelitian terbaru justru memperlihatkan sisi lain: Gen Z menjadi generasi yang paling sering merasakan kesepian di lingkungan kerja.

Sebuah survei yang dikutip dari halaman CpaPracticeAdvisor terhadap sekitar 2.000 pekerja dewasa di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa 77 % pekerja Gen Z pernah merasa kesepian di tempat kerja setidaknya sekali, lebih tinggi dibandingkan generasi lain. Walaupun Gen Z lebih mungkin bersosialisasi di luar jam kerja, mereka justru memiliki lebih sedikit hubungan dekat di tempat kerja. Hanya sekitar 18 % pekerja Gen Z yang memiliki empat atau lebih teman dekat di tempat kerja, dibandingkan 25 % untuk generasi lebih tua. Artinya, Gen Z mungkin terlihat aktif secara sosial di luar kantor, tetapi keterikatan emosional yang mendalam terhadap kolega di lingkungan kerja masih rendah — sebuah tanda bahwa kesepian bukan sekadar kurangnya interaksi, tetapi minimnya hubungan yang bermakna.

Gen Z Merasa Terisolasi Meski Lebih Banyak Interaksi

Data dari survei lain yang dikutip dari nysscpa.org menunjukkan bahwa 60 % pekerja Gen Z berharap memiliki hubungan lebih dekat dengan rekan kerja, jauh di atas angka rata-rata nasional yang hanya sekitar 46 %. Survei ini juga membuktikan bahwa walau ada kecenderungan Gen Z untuk bergaul di luar pekerjaan dengan kolega, hal itu belum cukup mengurangi rasa keterasingan mereka saat jam kerja berlangsung. Survei ini juga membuktikan bahwa walau ada kecenderungan Gen Z untuk bergaul di luar pekerjaan dengan kolega, hal itu belum cukup mengurangi rasa keterasingan mereka saat jam kerja berlangsung.

Penyebab Utama Kesepian di Tempat Kerja

Dikutip dari beberapa survei yang diambil, ada Beberapa faktor yang berkontribusi pada fenomena ini antara lain:

  1. Awal karier yang dimulai secara remote: Banyak Gen Z memulai pekerjaan mereka saat atau setelah pandemi, sehingga kesempatan membangun hubungan interpersonal langsung di kantor menjadi terbatas.

  2. Tekanan budaya kerja digital: Interaksi lewat pesan teks atau rapat virtual tidak selalu mampu menggantikan kedalaman hubungan tatap muka.

  3. Ekspektasi terhadap budaya kerja: Gen Z cenderung menghargai keterbukaan, dukungan emosional, dan koneksi dalam pekerjaan—standar yang sering kali tidak terpenuhi di banyak organisasi.

Apa Dampaknya bagi Perusahaan dan Karyawan?

Dampak kesepian di kantor bukan sekadar persoalan emosional. Survei lain yang dikutip dari MediaBrief menunjukkan bahwa lebih dari separuh pekerja Gen Z mengaku mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaan mereka karena merasa kurang terhubung secara sosial. Temuan ini menjadi peringatan bagi perusahaan. Tingkat keterikatan (engagement) karyawan muda bisa terpengaruh jika kebutuhan sosial dan emosional mereka tidak diakomodasi dengan baik. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat berdampak pada produktivitas dan retensi talenta.

Paradoks Generasi Paling Terkoneksi

Fenomena ini menghadirkan paradoks. Di era ketika teknologi memungkinkan orang terhubung tanpa batas, generasi yang paling melek digital justru melaporkan tingkat kesepian tertinggi di tempat kerja. kesejahteraan karyawan tidak hanya bergantung pada gaji atau jenjang karier. Hubungan sosial yang bermakna di tempat kerja menjadi faktor penting dalam membangun rasa memiliki dan kepuasan kerja. Dengan semakin banyaknya Gen Z memasuki dunia profesional, perusahaan dituntut untuk merancang budaya kerja yang lebih kolaboratif, inklusif, dan mendorong interaksi yang autentik—bukan sekadar komunikasi formal berbasis tugas. Jika tidak, kantor bisa menjadi ruang kerja yang ramai, tetapi tetap terasa sepi bagi generasi paling muda di dalamnya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....