Bahasa Daerah di Mata Gen Z, Keren atau Terlupakan?

  • 19 Jul 2026 09:17 WIB
  •  Sibolga

RRI.CO.ID, Sibolga - Di tengah modernisasi dan pergeseran gaya hidup digital, eksistensi bahasa daerah di kalangan generasi muda kini berada di persimpangan jalan. Kenyataan ini juga terlihat nyata di Kota Sibolga, kota pesisir berjuluk "Negeri Berbilang Kaum" yang kaya akan akulturasi budaya. Bahasa Pesisir dan Bahasa Batak Toba yang menjadi identitas wilayah ini, kini mulai bersaing ketat dengan bahasa gaul dan bahasa Indonesia formal dalam interaksi sehari-hari anak muda.

Bagi sebagian Gen Z di Sibolga, menguasai bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas yang memiliki nilai kebanggaan tersendiri.

Amar Pohan, pegiat komunitas kreatif di Sibolga, menilai bahasa daerah simbol kedekatan emosional yang tidak bisa digantikan oleh bahasa asing atau bahasa gaul Jakarta.

"Bagi kami anak muda Sibolga, pakai bahasa Pesisir itu justru terasa keren dan punya nilai estetik sendiri. Kalau lagi nongkrong di kafe atau pinggir pantai lalu kami berseloroh pakai kosakata lokal seperti 'iyo' (iya) atau 'indada' (tidak ada), rasanya kebersamaan itu lebih hidup. Bahasa daerah bikin kita punya ciri khas yang beda dari daerah lain," ujar Amar Pohan saat acara Teras Pro2 RRI Sibolga. Jum'at, 17 Juni 2026.

Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya merata. Tantangan terbesar justru datang dari konsumsi media sosial yang masif, di mana konten-konten populer didominasi oleh bahasa Indonesia Jakarta atau bahasa Inggris. Akibatnya, sebagian remaja di Sibolga mulai merasa canggung atau bahkan mengalami penurunan kemampuan berbahasa daerah secara aktif.

Hal ini diakui Debora, pelajar SMA di kota Sibolga. Ia mengaku hanya bisa memahami bahasa daerah secara pasif.

"Jujur, kalau di sekolah atau di tongkrongan sehari-hari, kami lebih sering pakai bahasa Indonesia mix dengan istilah-istilah di TikTok. Saya paham kalau orang tua atau opung ngomong pakai bahasa daerah, tapi kalau disuruh balas penuh pakai bahasa daerah lagi, lidah rasanya kaku. Ada sedikit rasa khawatir kalau kelamaan bahasa asli kita ini malah terlupakan sama generasi kami," ungkap Debora.

Menanggapi keadaan yang terjadi pada penutur pasif ini, pengamat budaya lokal, Edi Saputra menilai kunci bertahannya bahasa daerah ada pada cara pengemasannya.

"Bahasa daerah tidak boleh hanya dikurung dalam acara adat formal, melainkan harus dibawa masuk ke dalam ekosistem digital Gen Z seperti lewat musik, video komedi pendek, hingga caption media sosial," kata Edi Saputra.

Masa depan bahasa daerah di Kota Sibolga pada akhirnya bertumpu pada kesadaran generasinya. Apakah keragaman logat dan kosa kata di pesisir barat Sumatra Utara ini akan tetap dirawat sebagai warisan yang keren, atau perlahan-lahan memudar ditelan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....