Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal

  • 17 Jul 2026 21:43 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh – Pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal dinilai menjadi salah satu strategi paling menjanjikan untuk memperkuat perekonomian Aceh di tengah menurunnya ketergantungan terhadap sumber daya alam. Hal itu mengemuka dalam Talkshow RRI Banda Aceh Programa 4 bertema "Ekonomi dan Kewirausahaan: Menggali Potensi Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal" yang disiarkan pada Rabu (15/7/2026).

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala sekaligus Koordinator ISEI Aceh, Prof. Aliasuddin, Ph.D., mengatakan ekonomi kreatif merupakan aktivitas ekonomi yang bertumpu pada pengetahuan, keterampilan, kreativitas, serta identitas budaya masyarakat.

Menurutnya, sektor tersebut memiliki daya ungkit yang besar karena melibatkan banyak rantai ekonomi, mulai dari penyedia bahan baku, pelaku usaha, pemasaran hingga sektor pariwisata.

"Kalau ekonomi kreatif bergerak, gerbong yang ikut bergerak sangat panjang. Kita tidak hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi memanfaatkan kreativitas masyarakat yang keberlanjutannya jauh lebih panjang," ujarnya.

Prof. Aliasuddin menilai Aceh memiliki modal budaya dan sejarah yang sangat kuat untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi. Selain kerajinan songket, ia mencontohkan cerita kepahlawanan, hikayat Aceh, hingga tokoh seperti Laksamana Malahayati yang dapat diangkat menjadi film animasi maupun konten digital.

Ia menegaskan, anak muda Aceh perlu didorong masuk ke industri kreatif digital agar budaya lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga mampu menghasilkan nilai ekonomi.

Di sisi lain, Prof. Aliasuddin menilai keberhasilan ekonomi kreatif membutuhkan keberpihakan pemerintah, terutama melalui penyediaan infrastruktur pendukung, promosi, hingga ruang pemasaran yang lebih luas.

Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya memberikan pelatihan, tetapi juga perlu membuka akses pasar dan membantu promosi produk lokal hingga ke tingkat internasional.

Sementara itu, Bendahara Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Aceh Besar, Samsul Bahri, S.Ag., S.E., M.E., mengatakan ekonomi kreatif di Aceh memiliki keunggulan tersendiri karena didukung penerapan nilai-nilai syariah.

Prof.Aliasuddun,Ph.D (Guru besar Fakultas Ekonomi USK dan Ketua ISEI banda aceeh - koordinator ISEI Aceh), Samsul Bahri, S.Ag,SE,ME (bendahara umum MES Aceh Besar), Maulina (OAS Songket), dalam Talkshow RRI Banda Aceh Programa 4 bertema "Ekonomi dan Kewirausahaan: Menggali Potensi Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal" yang disiarkan pada Rabu (15/7). Foto : RRI/Lis

Ia menjelaskan, budaya lokal yang dipadukan dengan prinsip ekonomi syariah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun pasar luar daerah karena memberikan jaminan kehalalan produk.

Menurut Samsul, MES selama ini berperan sebagai pendamping pelaku UMKM melalui edukasi, peningkatan literasi keuangan, legalitas usaha hingga membuka akses promosi dan pemasaran.

Ia menyebut salah satu tantangan terbesar UMKM saat ini adalah masih rendahnya kemampuan menyusun laporan keuangan sehingga menyulitkan akses pembiayaan ke lembaga keuangan formal.

"Kami mendampingi UMKM agar memiliki legalitas usaha, memahami pencatatan keuangan, serta menghubungkan mereka dengan perbankan maupun lembaga keuangan syariah," katanya.

Samsul juga mendorong generasi muda agar tidak ragu memulai usaha berbasis budaya lokal dengan memanfaatkan teknologi digital, media sosial, dan marketplace sebagai sarana pemasaran.

Dalam kesempatan yang sama, pelaku UMKM sekaligus pemilik OAS Songket, Maulina, mengatakan usaha songket yang dirintisnya berawal dari sebuah pelatihan menenun hingga akhirnya berkembang menjadi produk kreatif yang memadukan nilai budaya dengan inovasi desain.

Ia mengaku tantangan terbesar saat ini bukan lagi pelatihan, melainkan terbatasnya sumber daya manusia penenun dan akses pasar.

Menurut Maulina, banyak UMKM sebenarnya mampu menghasilkan produk berkualitas, namun kesulitan memasarkan hasil produksinya secara berkelanjutan.

"Yang dibutuhkan UMKM hari ini bukan hanya pelatihan, tetapi pasar. Kalau produk sudah jadi tetapi tidak ada yang membantu memasarkannya, tentu usaha akan sulit berkembang," ujarnya.

Ia berharap pemerintah lebih aktif mempromosikan produk-produk lokal Aceh, termasuk melalui penggunaan produk UMKM dalam berbagai kegiatan resmi, sehingga mampu memperluas pasar sekaligus menjaga keberlangsungan warisan budaya daerah.

Maulina juga terus berinovasi dengan menghadirkan berbagai produk turunan berbahan songket, seperti tas, gantungan kunci, hingga aksesori fesyen agar lebih diminati generasi muda tanpa menghilangkan identitas budaya Aceh.

Ketiga narasumber sepakat bahwa pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi, pelaku usaha, dan masyarakat.

Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kunci agar kekayaan budaya Aceh tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat daya saing produk Aceh di pasar nasional maupun internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....