Moderasi Beragama Jadi Benteng Generasi Muda di Era Media Sosial
- 16 Jul 2026 11:10 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Arus informasi yang begitu deras di era digital membawa kemudahan sekaligus tantangan bagi generasi muda. Di tengah maraknya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga paham radikal di media sosial, penguatan moderasi beragama dinilai menjadi kunci untuk menjaga kerukunan dan persatuan bangsa.
Hal tersebut disampaikan Dewi Anisah Fatayatul Muniroh, S.Ag., Penyuluh Agama Ahli Madya Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sragen, dalam program Obrolan Siang RRI Surakarta, Selasa, 14 Juli 2026. Menurut Dewi, moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan seseorang terhadap agamanya, melainkan menjalankan ajaran agama dengan sikap yang adil, seimbang, dan menghormati perbedaan.
"Moderasi beragama adalah cara pandang kita, sikap kita, perilaku beragama kita yang mengambil jalan tengah. Tidak ekstrem kiri yang terlalu fanatik, juga tidak ekstrem kanan yang terlalu bebas. Konsep ini menekankan penghormatan terhadap martabat manusia, toleransi, serta menjaga keharmonisan di tengah keberagaman tanpa mengorbankan keyakinan agama masing-masing," ucap Dewi.
Ia menegaskan, Indonesia sebagai negara yang majemuk membutuhkan masyarakat yang mampu hidup berdampingan di tengah beragam agama, budaya, dan suku. Karena itu, moderasi beragama menjadi fondasi penting dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis.
Media Sosial Mempermudah Penyebaran Paham Ekstrem
Dewi menjelaskan, perkembangan teknologi dan media sosial membuat informasi dapat diakses dengan sangat cepat. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan paham radikal dan intoleran, terutama kepada generasi milenial dan Gen Z yang merupakan pengguna internet terbesar.
"Internet atau media sosial telah menjadi sumber berbagai informasi bagi masyarakat. Dampaknya bisa positif maupun negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah generasi muda dengan mudah disusupi doktrin-doktrin yang mengandung pandangan radikal," katanya.
Ia menyebut, penyebaran paham ekstrem kini banyak dilakukan melalui ruang digital yang tertutup sehingga sulit terdeteksi. Karena itu, literasi digital menjadi kemampuan yang wajib dimiliki generasi muda.
Radikalisme Berawal dari Merasa Paling Benar
Dalam kesempatan tersebut, Dewi menjelaskan bahwa pola pikir radikal umumnya diawali oleh keyakinan yang melihat dunia hanya dalam dua sisi, yakni hitam dan putih.
"Pola pikir ini menolak ruang kompromi. Merasa kelompoknya paling benar, sementara kelompok lain dianggap sesat atau kafir. Dari situlah muncul intoleransi, kemudian berkembang menjadi kekerasan," ujarnya.
Menurutnya, sebelum seseorang terjerumus dalam tindakan ekstrem, biasanya terdapat beberapa tahapan, mulai dari eksklusivisme, intoleransi, merasa paling benar (takfiri), hingga melegitimasi kekerasan sebagai cara mencapai tujuan. Selain faktor ideologi, Dewi juga menyebut kesenjangan sosial, politik identitas, serta indoktrinasi melalui informasi yang tidak tervalidasi sebagai penyebab berkembangnya radikalisme.
| Baca juga: Peran Perempuan dalam Moderasi Beragama |
Orang Tua Berperan Penting Mengawasi Anak
Dewi mengungkapkan, media sosial bukan satu-satunya penyebab munculnya paham radikal. Kurangnya pendampingan dari keluarga juga menjadi faktor yang tidak kalah penting.
Ia bahkan menceritakan pengalaman menerima pengaduan mengenai seorang mahasiswa yang menghilang selama berbulan-bulan setelah bergabung dengan kelompok berpaham ekstrem melalui media komunikasi tertutup. "Ketika ditemukan, pola pikirnya sudah berubah. Dia merasa dirinya paling benar, yang lain salah. Bahkan tidak mau melanjutkan kuliah. Ini fakta yang dekat dengan kita," ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan agar orang tua tidak hanya memberikan fasilitas digital kepada anak, tetapi juga melakukan pendampingan dan membangun komunikasi yang intens. "Generasi sekarang tidak hanya butuh fasilitas, tetapi juga butuh pendampingan orang tua. Pengawasan itu penting supaya anak mampu memilih mana informasi yang positif dan mana yang menyesatkan," katanya.
Generasi Muda Diminta Jadi Agen Perdamaian
Di akhir dialog, Dewi mengajak generasi milenial dan Gen Z memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan konten yang mengandung nilai toleransi, persaudaraan, dan kebangsaan. Menurutnya, media digital seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, bukan memperbesar perpecahan.
"Generasi milenial dan Gen Z adalah agen perdamaian. Jadilah agen perdamaian, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Tolak kekerasan, junjung tinggi kemanusiaan, ambil jalan tengah dalam beragama, rawat toleransi, dan jaga persatuan bangsa di atas segala perbedaan," kata Dewi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....