Kayu Bakar masih Menjadi Pilihan Masyarakat Pedesaan untuk Berbagai Acara Besar
- 14 Jul 2026 06:25 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Di tengah semakin berkembangnya penggunaan kompor gas dan peralatan memasak modern, kayu bakar masih menjadi pilihan utama masyarakat di sejumlah wilayah pedesaan, khususnya di Kalimantan Tengah, untuk memasak dalam berbagai acara besar. Mulai dari pesta pernikahan, syukuran, hajatan, hingga kegiatan adat dan keagamaan, kayu bakar dinilai lebih praktis, ekonomis, serta mampu menghasilkan cita rasa masakan yang khas.
Bagi masyarakat pedesaan, memasak menggunakan kayu bakar dinilai lebih efektif ketika harus menyiapkan makanan dalam jumlah banyak. Tungku tradisional mampu menopang panci berukuran besar, sementara api yang dihasilkan kayu bakar dapat dijaga tetap stabil selama proses memasak. Selain itu, kayu bakar relatif mudah diperoleh dari kebun atau lahan milik warga sehingga dapat menghemat biaya penyelenggaraan acara.
Penggunaan kayu bakar juga menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam setiap persiapan acara, warga biasanya bergotong royong mengumpulkan kayu, mendirikan tungku, serta memasak bersama. Kebersamaan tersebut tidak hanya mempercepat pekerjaan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antar warga yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat pedesaan.
Selain faktor ekonomi dan kemudahan, banyak warga meyakini bahwa masakan yang dimasak menggunakan kayu bakar memiliki cita rasa yang lebih khas dibandingkan menggunakan kompor gas. Aroma asap alami dari kayu memberikan karakter tersendiri pada berbagai jenis masakan, terutama hidangan tradisional yang disajikan pada acara adat maupun pesta keluarga.
| Baca juga: Memaknai Semangat Baru di Tahun Baru Hijriah |
Meski demikian, masyarakat juga mulai memanfaatkan peralatan memasak modern untuk kebutuhan sehari-hari. Kompor gas dan kompor listrik digunakan karena lebih praktis dan cepat. Namun, saat mengadakan kegiatan berskala besar, kayu bakar tetap menjadi pilihan utama karena dianggap lebih efisien untuk memasak dalam kapasitas besar dan mampu digunakan dalam waktu yang lama.
Masyarakat berharap tradisi memanfaatkan kayu bakar tetap dapat dilestarikan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Warga umumnya menggunakan kayu dari pohon yang sudah tua, ranting yang telah kering, atau hasil kebun sendiri, serta menghindari penebangan pohon secara sembarangan. Kesadaran untuk menjaga keseimbangan alam menjadi bagian penting agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa merusak hutan.
Keberadaan kayu bakar hingga saat ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih tetap bertahan di tengah perkembangan zaman. Selain berfungsi sebagai sumber energi untuk memasak, kayu bakar juga menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan pelestarian tradisi masyarakat pedesaan. Dengan pemanfaatan yang bijaksana dan berkelanjutan, tradisi ini diharapkan terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....