Inflasi Sulsel Makin Tinggi, Luwu Timur Catat Rekor Tertinggi
- 02 Jul 2026 09:49 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat angka inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) pada Juni 2026 mencapai 3,56 persen. Data inflasi tersebut tertuang dalam laporan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang resmi dirilis pada Rabu, 1 Juli 2026.
Kepala BPS Sulawesi Selatan, Aryanto, mengatakan selain inflasi tahunan, Sulsel juga mengalami inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,36 persen. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan adanya tekanan harga yang masih berlangsung pada sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat.
“Adapun inflasi tahun kalender atau year to date hingga Juni 2026 tercatat sebesar 2,54 persen. Kenaikan harga terutama dipicu oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya,” ujar Aryanto.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan tahunan mencapai 10,48 persen. Aryanto menyebut lonjakan harga pada sektor ini cukup signifikan dibandingkan kelompok pengeluaran lainnya.
Salah satu komoditas yang memberi andil besar terhadap inflasi adalah emas perhiasan dengan kontribusi mencapai 0,77 persen. “Selain emas, sejumlah kebutuhan harian seperti pasta gigi, bedak, dan sabun mandi juga mengalami kenaikan harga yang cukup terasa,” katanya.
Tekanan inflasi juga datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat kenaikan tahunan sebesar 5,69 persen. Komoditas seperti ikan layang, tomat, cabai rawit, daging ayam ras, hingga sigaret kretek mesin menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di Sulsel.
Menurut Aryanto, masing-masing komoditas tersebut memberikan kontribusi lebih dari 0,10 persen terhadap inflasi umum. Ia menjelaskan bahwa pola kenaikan harga bahan pangan ini sejalan dengan meningkatnya permintaan dan distribusi yang belum sepenuhnya stabil di beberapa daerah.
BPS Sulawesi Selatan melakukan pemantauan Indeks Harga Konsumen di delapan kabupaten dan kota selama periode Juni 2026. Hasilnya, seluruh wilayah pemantauan tercatat mengalami inflasi dengan tingkat yang bervariasi.
“Luwu Timur menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi sebesar 4,32 persen, sedangkan Bulukumba mencatat inflasi terendah yakni 2,57 persen,” ungkap Aryanto. Ia menilai perbedaan angka inflasi antarwilayah dipengaruhi pola konsumsi dan distribusi barang yang berbeda.
Di tengah tren inflasi yang meningkat, kelompok pakaian dan alas kaki justru menjadi satu-satunya sektor yang mengalami deflasi. “Kelompok ini turun 0,42 persen secara tahunan karena adanya penurunan harga beberapa komoditas seperti kaos pria tanpa kerah, sepatu pria, celana jeans pria, dan sandal kulit wanita,” tutup Aryanto.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....