Waspada Phubbing! Ancaman Diam-Diam Gadget yang Rusak Relasi dan Prestasi Anak
- 29 Apr 2026 15:47 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Fenomena "Phubbing" atau kebiasaan mengabaikan orang sekitar karena sibuk dengan gadget kini menjadi perhatian serius di dunia pendidikan dan masyarakat. Dalam program dialog "Literasi Digital", RRI Pro 1 Pontianak, Selasa, 28 April 2026, menghadirkan tokoh publik Kalimantan Barat sekaligus Bupati Pertama Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, Muda Mahendrawan, bersama anggota Dewan Pendidikan Provinsi Kalbar, Yusida, mengingatkan bahaya laten dari kecanduan gadget yang kian mengkhawatirkan.
Bersama Host Budiman Taher, Yusida menerangkan, phubbing adalah perilaku berlebihan dalam penggunaan gadget yang membuat seseorang kehilangan kontrol diri hingga mengganggu interaksi sosial.
“Phubbing itu sikap ketika seseorang terlalu asyik dengan handphone sampai mengabaikan orang di sekitarnya. Ini bisa menimbulkan kekecewaan dan merusak hubungan sosial,” katanya.
Ia menambahkan, dampaknya tidak hanya pada hubungan sosial, tetapi juga pada dunia pendidikan. “Anak yang terlalu bergantung pada gadget akan sulit berkonsentrasi, kreativitas menurun, dan prestasi belajar bisa terdampak. Waktu yang seharusnya untuk belajar justru habis untuk hal yang tidak produktif,” ujarnya.
Sementara itu, Muda Mahendrawan menilai fenomena ini sebagai alarm awal dari kecanduan gadget yang lebih serius. “Phubbing ini gerbang awal. Kalau sudah mengabaikan orang sekitar, itu tanda mulai kecanduan. Dampaknya bisa menurunkan empati, merusak relasi, bahkan memicu konflik dalam keluarga,” ucapnya.
Ia juga menyoroti dampak luas dari penggunaan gadget yang tidak terkontrol, termasuk paparan konten negatif hingga perubahan perilaku ekstrem. “Kita tidak boleh dikendalikan oleh algoritma. Justru kita yang harus mengendalikan teknologi. Kalau tidak, generasi kita bisa kehilangan daya juang dan kemampuan berpikir kritis,” katanya.
Dalam konteks keluarga, kedua narasumber sepakat bahwa peran orang tua sangat krusial. Yusida menekankan pentingnya keteladanan. “Jangan anak dilarang, tapi orang tua sendiri sibuk dengan gadget. Pengendalian diri harus dimulai dari orang tua,” katanya.
Ia juga menyarankan adanya aturan jelas dalam penggunaan gadget. “Harus ada batas waktu. Misalnya 15–30 menit, setelah itu berhenti. Orang tua yang menetapkan aturan, bukan anak yang menawar,” Yusida menambahkan.
Sementara itu, Muda Mahendrawan mengajak masyarakat untuk menciptakan keseimbangan antara dunia digital dan aktivitas nyata. “Ajak anak bermain di alam, olahraga, atau permainan tradisional. Itu penting untuk melatih konsentrasi dan interaksi sosial,” ujarnya.
Ia bahkan mengingatkan dengan tegas agar orang tua tidak lengah terhadap dampak jangka panjang. “Jangan sampai kita sibuk mencari nafkah, tapi masa depan anak justru ‘disabotase’ oleh kecanduan gadget,” katanya.
Sebagai solusi, keduanya mendorong gerakan sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, termasuk kebiasaan sederhana seperti tidak menggunakan gadget saat berkumpul bersama keluarga atau teman.
Dengan meningkatnya penggunaan teknologi di era digital, kontrol diri dan peran keluarga menjadi kunci utama agar manfaat teknologi tetap maksimal tanpa mengorbankan kualitas hubungan sosial dan perkembangan generasi muda.
Baca juga: Rindu Suasana Sore tanpa Gadget: Mengapa Kita Butuh 'Waktu Lambat' di Era Serba Cepat?
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....