Didampingi KKP, Pokdakan Mapan Kembangkan Budidaya Nila di Danau Tanjung Bunga
- 23 Apr 2026 12:22 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Kelompok pembudidaya ikan di wilayah pesisir Danau Tanjung Bunga terus menunjukkan perkembangan positif berkat pendampingan intensif dari penyuluh perikanan. Salah satu kelompok binaan yang kini mulai berkembang adalah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mapan di Kecamatan Tamalate.
Penyuluh Perikanan Ahli Pertama Kementerian Kelautan dan Perikanan Makassar, Siti Nursyamsi, menjelaskan bahwa kelompok tersebut dibentuk melalui inisiatif bersama antara penyuluh Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), lurah, serta Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar.
“Iya, betul. Kelompok Mapan ini merupakan kelompok binaan kami di wilayah Tamalate yang dibentuk bersama masyarakat agar pembudidaya ikan bisa lebih terarah dan terorganisir,” ujar Sitti.
Ia menjelaskan, wilayah Tamalate yang berada di Danau Tanjung Bunga memiliki potensi besar untuk budidaya ikan, khususnya ikan nila. Potensi tersebut terlihat dari banyaknya masyarakat yang telah memanfaatkan kawasan tersebut untuk budidaya dengan sistem keramba.
Namun, sebelum adanya pendampingan, para pelaku usaha masih berjalan sendiri-sendiri tanpa kelompok. Padahal, menurut Siti, pembentukan kelompok menjadi kunci penting dalam pengembangan usaha perikanan.
“Dengan berkelompok, masyarakat bisa mendapatkan lebih banyak manfaat, baik dari sisi pembinaan, bantuan, maupun akses program pemerintah,” kata Sitti.
Kelompok Mapan sendiri terbentuk dari masyarakat yang memiliki usaha budidaya ikan nila dengan memanfaatkan aliran air sungai yang kaya nutrisi alami. Kondisi air yang terus mengalir dinilai sangat mendukung pertumbuhan ikan karena membawa unsur hara dan plankton alami.
Terkait dukungan pemerintah, Siti mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 kelompok ini telah menerima bantuan dari KKP berupa 1.000 bibit ikan nila. Bantuan tersebut menjadi stimulus awal untuk meningkatkan produksi budidaya di kawasan tersebut.
“Ini merupakan bentuk dukungan pemerintah pusat kepada masyarakat di Kota Makassar, khususnya di Kecamatan Tamalate, untuk mengembangkan potensi perikanan,” katanya.
Untuk tahun 2026, bantuan dari pemerintah pusat kemungkinan belum dapat kembali diberikan kepada kelompok yang sama. Hal ini dikarenakan adanya sistem pemerataan bantuan agar kelompok lain juga mendapat kesempatan.
Meski demikian, peluang bantuan tetap terbuka melalui pemerintah daerah. Siti menyarankan agar kelompok aktif mengajukan proposal ke dinas terkait guna mendapatkan dukungan lanjutan.
Dalam hal kendala, biaya pakan menjadi salah satu tantangan utama bagi pembudidaya. Menyikapi hal tersebut, penyuluh mendorong masyarakat untuk memproduksi pakan secara mandiri dengan memanfaatkan bahan lokal.
“Kelompok Mapan sudah mulai membuat pakan mandiri dari bahan seperti sayuran yang dicampur protein. Ini sangat membantu menekan biaya produksi,” ungkapnya.
Selain itu, pemerintah juga telah memberikan dukungan berupa mesin pembuat pakan kepada beberapa kelompok di Makassar. Namun, karena Kelompok Mapan masih tergolong baru dibentuk pada 2025, mereka belum menerima bantuan tersebut.
Siti menegaskan, pemerintah pada prinsipnya akan menindaklanjuti kebutuhan masyarakat sepanjang diajukan melalui proposal resmi dan didampingi oleh penyuluh.
Ia juga menjelaskan bahwa keterbatasan lahan menjadi kendala utama bagi kelompok di wilayah Tamalate untuk mengakses bantuan skala besar dari pemerintah pusat, seperti kolam bioflok. Hal ini karena sebagian besar aktivitas budidaya dilakukan di bantaran sungai tanpa kepemilikan lahan tetap.
“Kami tetap berupaya memaksimalkan potensi yang ada dengan bantuan yang sesuai kondisi wilayah, seperti bibit ikan dan pendampingan teknis,” tutupnya.
Dengan pembinaan berkelanjutan dan partisipasi aktif masyarakat, budidaya ikan di kawasan Tanjung Bunga diharapkan terus berkembang dan menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....