Makna Panic Buying dalam Perspektif Islam

  • 07 Apr 2026 05:25 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya -Fenomena panic buying atau pembelian berlebihan kembali menjadi perhatian di tengah masyarakat, khususnya terkait kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). Dalam perspektif Islam, perilaku ini dinilai tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek moral dan sosial.

Dalam acara Mutiara Pagi Pro1 RRI Palangka Raya, Selasa, 7 April 2026, Ahmad Hanafi, S.E.I., M.E menjelaskan fenomena panic buying yang terjadi di masyarakat saat ini terlihat nyata, seperti antrean panjang kendaraan di SPBU hingga adanya individu yang membeli BBM berkali-kali atau menyimpan melebihi kebutuhan.

“Yang terjadi di masyarakat itu bisa dilihat nyata, antrean BBM panjang. Ada yang membawa mobil besar berkali-kali, ada juga yang menyimpan lebih dari kebutuhan. Ini mengakibatkan kelangkaan dan distribusi yang tidak merata,” ujarnya.

Ia juga menyoroti praktik penimbunan yang dilakukan sebagian pihak dengan tujuan memperoleh keuntungan saat harga naik atau barang menjadi langka. Selain itu, faktor psikologis seperti rasa cemas turut memicu masyarakat ikut-ikutan membeli, meskipun sebenarnya tidak terlalu membutuhkan.

“Ada rasa cemas karena melihat antrean panjang, akhirnya ikut antre juga. Padahal kondisi sebenarnya tidak kekurangan. Ini yang disebut perilaku berlebihan akibat dorongan situasi,” ucapnya.

Dalam pandangan Islam, Ahmad Hanafi menegaskan bahwa membeli dan menyimpan barang pada dasarnya diperbolehkan. Namun, hal tersebut menjadi tidak dibenarkan ketika dilakukan secara berlebihan hingga melampaui kebutuhan.

Ia juga mengingatkan bahwa meskipun seseorang menggunakan uang pribadi untuk membeli barang, tetap harus mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkan. Jika dilakukan secara masif oleh banyak orang, maka dapat menyebabkan kelangkaan dan merugikan masyarakat luas.

“Kalau satu orang membeli berlebihan mungkin tidak terasa, tetapi jika satu kota melakukan hal yang sama, maka dampaknya akan besar. Bisa terjadi kelangkaan, antrean panjang, bahkan potensi konflik sosial,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ahmad Hanafi mengajak masyarakat untuk menyikapi kondisi ini dengan nilai-nilai Islam, yaitu tawakal dan qana’ah. Tawakal berarti berserah diri kepada Allah setelah berusaha, sementara qana’ah adalah sikap merasa cukup atas apa yang dimiliki.

“Allah memberikan jaminan kepada manusia. Caranya dengan bertawakal dan qana’ah. Bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi tetap berusaha tanpa berlebihan,” katanya.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan mampu mengendalikan diri dalam memenuhi kebutuhan, serta tidak terjebak dalam kepanikan yang justru merugikan diri sendiri dan orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....