Menjaga dan Merawat Moderasi Beragama dengan Forum Dialog
- 27 Feb 2026 13:20 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta- Moderasi beragama di Kabupaten Karanganyar tidak hanya menjadi konsep normatif, tetapi tampak dalam kehidupan sosial masyarakat yang terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Dari kawasan pegunungan hingga wilayah penyangga perkotaan, dinamika sosial berlangsung berdampingan dengan semangat menjaga kerukunan.
Dalam OBSI Pro 1 Surakarta Selasa, 24 Februari 2026, Zuhaid, Lc., M. Ud., Penyuluh Agama Islam Ahli Muda Kemenag Karanganyar menegaskan bahwa dinamika yang pernah muncul di Karanganyar bukanlah konflik besar berbasis agama, melainkan lebih pada perbedaan persepsi dan proses adaptasi sosial. “Beberapa kasus memang pernah terjadi, tetapi itu hanya dilakukan oleh segelintir orang dan tidak mencerminkan kondisi umum masyarakat. Mayoritas warga tetap hidup rukun,” ujarnya.
Zuhaid menambahkan, peran penyuluh agama serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sangat penting dalam membuka ruang dialog bagi semua elemen masyarakat. Dengan ruang dialog diharapkan potensi intoleransi dapat dikendalikan sejak dini.
Di kawasan wisata Tawangmangu, perkembangan sektor pariwisata membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi warga, namun sebagian masyarakat tetap berharap norma sosial dan nilai religius harus dihormati. “Perbedaan pandangan yang muncul itu, sejauh ini diselesaikan melalui musyawarah antara tokoh agama, pemerintah desa, dan pelaku usaha,” kata Zuhaid.
Perubahan sosial juga terasa di wilayah seperti Gondangrejo yang berkembang sebagai kawasan penyangga Solo. Pertumbuhan perumahan baru menghadirkan warga dengan latar belakang beragam. Adaptasi sosial menjadi proses yang berjalan alami, dengan forum lingkungan dan komunikasi warga sebagai sarana membangun kebersamaan.
Sementara itu, di kawasan industri Kebakkramat, mobilitas pekerja dari berbagai daerah menciptakan masyarakat yang semakin heterogen. Isu-isu yang berkembang di media sosial terkadang ikut terbawa ke ruang lokal, namun biasanya dapat diredam melalui klarifikasi dan koordinasi lintas tokoh masyarakat.
Di wilayah agraris seperti Jumantono, perbedaan pandangan terhadap tradisi lokal juga pernah muncul. Diskusi mengenai praktik budaya disikapi melalui pendekatan dialog, sehingga tidak berkembang menjadi gesekan yang merusak hubungan sosial.
Zuhaid menambahkan praktik moderasi beragama yang nyata juga terlihat dari keberadaan rumah ibadah yang berdampingan di sejumlah titik di Karanganyar. “Di Karanganyar beberapa masjid dan gereja berdiri berdekatan, dan umat menjalankan ibadah masing-masing dengan lancar tanpa gangguan. Bahkan dalam perayaan hari besar keagamaan, warga kerap saling membantu menjaga keamanan dan ketertiban,” ucapnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa toleransi di Karanganyar bukan sekadar wacana, melainkan tercermin dalam sikap sehari-hari masyarakat. Dengan komunikasi yang terbangun dan kesadaran bersama untuk saling menghormati, harmoni sosial terus dirawat sebagai fondasi kehidupan yang damai di tengah keberagaman. (Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....