Geliat UMKM Medan: Kisah Reihani Mengolah Tenun Batak Melayu Jadi Produk Fesyen

  • 03 Okt 2026 22:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • UMKM Rehani Tenun Batik Batak Melayu mengubah benang tradisional menjadi produk fashion modern seperti pakaian dan aksesori.
  • Perajin lokal menggabungkan teknik tenun tradisional dengan desain kontemporer untuk memenuhi kebutuhan pasar zaman sekarang.
  • Produk tenun Batak Melayu diproduksi langsung di tangan perajin dengan mempertahankan nilai tradisional dan kualitas kerajinan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Di tangan perajin, sehelai benang tidak berhenti menjadi kain, tetapi dapat berubah menjadi pakaian hingga aksesori. UMKM "Rehani Tenun Batik Batak Melayu" mengolah tenun tradisional menjadi produk fesyen yang mengikuti kebutuhan zaman.

Tin Reihani selaku pemilik usaha telah mengembangkan usaha tersebut sejak 2014. Selama menjalankan usaha, ia mengolah tenun Batak dan Melayu menjadi berbagai produk turunan, seperti pakaian hingga suvenir.

"Kita memproduksi tenun dari sehelai benang, kain, lalu diproses menjadi fesyen seperti baju, tas, dompet, dan aksesoris lainnya. Saya sudah menekuni usaha ini dari 2014," ujarnya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Jakarta, Sabtu, 3 Oktober 2026.

UMKM asal Medan ini awalnya hanya memperkerjakan satu orang, yaitu tetangga Reihani sendiri. "Awalnya cuma satu, dari tetangga sendiri, kalau sekarang ada 12 orang yang membantu produksi," katanya.

Kini, Reihani melibatkan ibu-ibu rumah tangga dalam proses produksi sebagai perajin tenun. Mereka diberi pelatihan terlebih dahulu hingga mampu mengerjakan proses pembuatan tenun secara mandiri.

Sebelum membangun usaha, Reihani mengikuti pelatihan pembuatan tenun. Ia kemudian memperdalam keterampilannya dengan belajar kepada seorang guru.

"Awalnya saya belajar dengan mengikuti pelatihan, lalu, saya belajar lagi dengan guru. Guru itu sekarang ikut membantu saya," katanya.

Ia menjelaskan waktu pembuatan satu kain berbeda sesuai tingkat kerumitan motif yang digunakan. Motif sederhana membutuhkan sekitar empat hingga lima hari, sedangkan motif penuh dapat dikerjakan hingga dua minggu.

Reihani menggunakan beragam jenis benang, mulai dari sutra, katun, rayon, hingga polyester. Benang sutra dan katun memiliki tingkat pengerjaan lebih rumit dan harga yang lebih tinggi.

"Kalau benang itu macam macam, ada benang sutra, katun, rayon, polyester. Kalau pakai katun dan sutra, harganya lebih tinggi dari benang rayon atau polyester," ucapnya.

Selain menggunakan motif Melayu, Reihani juga mengembangkan tenun dengan unsur Batak. Proses pengerjaan menggunakan alat tenun dapat berlangsung lebih cepat, sedangkan tenun gedokan membutuhkan waktu hingga dua minggu.

"Kalau menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin atau ATBM, 3 hari atau 2 hari sudah selesai. Tapi kalau tenun gedokan yang diikat di pinggang, bisa sampai dua mingguan," katanya.

Ia juga memodifikasi kain tradisional agar dapat digunakan untuk kebutuhan fesyen sehari-hari. Misalnya, kain polos dipadukan dengan sutra agar hasilnya tidak monoton.

Produk tenun juga dapat dibuat sesuai permintaan motif maupun model pelanggan. Harga produknya berkisar Rp300 ribu hingga Rp3 juta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....