UMKM Essential Oil Jadi Penggerak Ekonomi Warga di Lahan Tandus

  • 06 Sep 2026 02:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Usaha kecil pengolah essential oil di Brebes membuka lapangan ekonomi baru dan mengubah lahan kritis menjadi sumber penghasilan masyarakat setempat.
  • Eliest Listiani, Founder dan Direktur DDistillers, memulai inisiatif ini berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi lahan tandus di desanya yang sulit diolah saat musim kemarau.
  • Pemanfaatan lahan tandus untuk pengolahan essential oil menjadi solusi ekonomi inovatif bagi warga daerah yang sebelumnya tidak produktif.

RRI.CO.ID, Jakarta - Usaha kecil pengolah essential oil ikut membuka lapangan ekonomi baru di daerah tandus. Di Brebes, inisiatif ini mengubah lahan kritis menjadi sumber penghasilan warga.

Founder dan Direktur DDistillers, Eliest Listiani, mengatakan gagasan itu berawal dari keprihatinan atas kondisi desanya. Ia melihat lahan tandus di Brebes sulit diolah warga saat musim kemarau.

"Pertama, kami melihat keprihatinan di sebuah desa di tanah kelahiran saya di Brebes. Di sana tanahnya tandus dan berlubang, lalu saya terpikir untuk membuat sesuatu yang bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar," ujarnya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Sabtu, 5 September 2026.

Eliest menjelaskan kondisi tersebut membuat warga hanya bisa bertani saat musim hujan. Saat kemarau datang, banyak lahan kembali kering dan aktivitas ekonomi ikut terhenti.

Observasinya juga menunjukkan bahwa lahan yang ditanami berhasil tetap menghijau ketika musim kemarau melanda wilayah tersebut. Sebaliknya, lahan lain yang belum ditanami kembali terlihat gersang saat kemarau.

Eliest lalu melakukan riset sederhana untuk mencari tanaman yang cocok dengan kondisi lahan tersebut. Hasilnya, citronella atau sereh wangi dinilai bisa tumbuh di musim hujan maupun kemarau.

"Kami melakukan riset sederhana dan ketemulah tanaman aromatik dengan jenis citronella atau sereh wangi. Tanaman ini ternyata bisa hidup waktu musim kemarau maupun musim penghujan," katanya.

Tanaman tersebut kemudian dikembangkan di kebun bibit percontohan seluas dua hektare. Dari sana, warga sekitar mulai ikut menanam tanaman aromatik secara berkelanjutan.

Seiring perkembangan usaha, Kini DDistillers memiliki lebih dari seratus varian produk, termasuk minyak atsiri dan hidrosol. Jaringannya juga berkembang dari satu wilayah menjadi sejumlah daerah di luar Jawa.

Sekitar 230 titik penyulingan skala kecil kini terlibat dalam jaringan tersebut. Setiap titik melibatkan setidaknya sepuluh petani dalam penyediaan bahan baku.

"Kami meluaskan jejaring di luar Jawa juga, sehingga sekarang sudah ada sekitar 230 titik lokasi penyulingan. Setiap titik penyulingan minimal ada sepuluh petani, jadi totalnya ada 2 ribu lebih petani yang bermitra dengan kami," ujarnya.

Perkembangan tersebut turut memperluas keterlibatan masyarakat dalam rantai usaha minyak atsiri yang dikembangkan perusahaan. Jumlah petani yang terlibat dalam kemitraan tersebut kini telah mencapai lebih dari 2 ribu orang.

Sementara itu, PIC Marketing Bienaturaly, Arthalovan, melihat perubahan pasar juga ikut mendorong pertumbuhan usaha ini. Produk berbahan natural atau berbasis alam kini makin dicari lewat e-commerce seiring meningkatnya minat terhadap gaya hidup sehat.

"Untuk saat ini, marketing telah beralih ke online, jadi mengandalkan sosial media, seperti TikTok dan Shopee. Kalau Bienaturaly sendiri lebih mengandalkan Shopee untuk online shopping, lalu strateginya dengan membuat banyak konten," ucapnya dalam kesempatan yang sama.

Arthalovan menilai perhatian masyarakat terhadap kesehatan turut membuat produk berbahan natural semakin diminati. Perubahan gaya hidup tersebut terlihat dari meningkatnya perhatian terhadap aktivitas seperti yoga, pilates, dan lari. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....