Kayu Terdampar di Pantai Bali Jadi Kerajinan Bernilai Tinggi
- 17 Mei 2026 12:01 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Melalui usaha Ulu Sari Handicraft, limbah kayu laut diolah menjadi produk kerajinan yang kini menembus pasar ekspor
- Negara tujuan ekspor meliputi Selandia Baru, Australia, Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat
- Kehadiran usaha itu pun membuka ruang penghidupan baru bagi banyak keluarga
RRI.CO.ID, Tabanan: Kayu-kayu yang terdampar di pesisir pantai Tabanan, Bali disulap menjadi kerajinan bernilai ekonomi tinggi oleh Wayan Sudira. Melalui usaha Ulu Sari Handicraft, limbah kayu laut diolah menjadi produk kerajinan yang kini menembus pasar ekspor.
Wayan melihat tumpukan kayu yang terbawa ombak bukan sekadar persoalan sampah pantai. Ia justru memanfaatkan limbah tersebut menjadi peluang usaha yang mendukung ekonomi masyarakat dan lingkungan.
Kerajinan berbahan limbah kayu laut itu sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs. Khususnya terkait konsumsi dan produksi bertanggung jawab serta perlindungan ekosistem laut.
Sejak bergabung dengan PNM Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) pada 2017, Wayan mengaku, usahanya mendapatkan akses pembiayaan dan pendampingan rutin. Dukungan tersebut membantu pengembangan usaha menjadi lebih terarah dan berkelanjutan.
"Kini, Ulu Sari Handicraft memiliki dua workshop yang berada di Singaraja dan Tegallalang, Bali. Usaha tersebut juga telah mempekerjakan sekitar 45 karyawan dari masyarakat sekitar," ucapnya dalam keterangan pers tertulis, Minggu, 17 Mei 2026.
Sebagian pekerja merupakan keluarga, warga sekitar, hingga mantan pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja saat pandemi Covid-19. Kehadiran usaha itu pun membuka ruang penghidupan baru bagi banyak keluarga.
Di tengah pandemi, saat banyak usaha mikro dan kecil mengalami tekanan, permintaan produk Ulu Sari Handicraft justru meningkat. Produk kerajinan Wayan kini rutin dikirim ke berbagai negara.
Negara tujuan ekspor meliputi Selandia Baru, Australia, Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat. Permintaan pasar mancanegara terus berkembang seiring meningkatnya minat terhadap produk ramah lingkungan.
“Dari kayu yang terbuang, astungkara bisa menjadi rezeki untuk keluarga. Rezeki juga untuk karyawan, dan untuk orang-orang di sekitar,” ucap Wayan.
Menurutnya, usaha tersebut bukan hanya tentang bisnis semata, tetapi juga bentuk rasa syukur dan kepedulian terhadap lingkungan. "Semoga usaha ini terus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dan membuka peluang ekonomi baru," ujarnya.
Kisah Ulu Sari Handicraft menjadi contoh bagaimana usaha mikro dapat tumbuh melalui kreativitas dan pemberdayaan. Limbah pantai yang sebelumnya menjadi tantangan lingkungan kini berubah menjadi produk bernilai tinggi dan membuka lapangan pekerjaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....