Nasib Perajin Perak di Koto Gadang Tidak Baik-baik saja
- 24 Mar 2026 22:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- 1. Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat merupakan salah satu sentra kerajinan atau perhiasan perak di Indonesia
- 2. Jumlah perajin perak terus menurun pasca krisis moneter 1998
- 3. Jumlah perajin perak menyisakan delapan orang
- 4. Upaya mengembalikan kejayaan kerajinan perak, didorong ada kelas khusus untuk wisatawan
RRI.CO.ID, Agam- Perajin kecil perak di sentra kerajinan perak di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat , jumlah semakin berkurang. Salah satu yang masih bertahan adalah Uwais Akarni.
Uwais membenarkan menurunnya jumlah perajin perak karena tidak ada regenerasi penerus. Kondisi tersebut disebabkan menurunnya permintaan terhadap perhiasan atau kerajinan dari perak sehingga banyak yang beralih profesi.
Profesi sebagai perajin perak mulai ditinggalkan dan tidak menjanjikan karena anjloknya permintaan. Uwais terpaksa bertahan karena mencari pekerjaan lain, terkendala usia.
“Perajin semakin berkurang karena yang meneruskan tidak ada. Saya kerja cuma ini saja, karena kalau cari kerja lain , ya usia,” kata Uwais seperti seperti disiarkan di RRI Pro3, Selasa, 24 Maret 2026.
Ia juga mengatakan untuk bahan baku perak yang tinggi, juga berdampak menurunnya produksi kerajinan atau perhiasan perak. Ia mengatakan biaya produksi lebih tinggi ketimbang keuntungan, dengan harga bahan baku Rp 45.000 per gram.
Uwais mengatakan perajinan perak mulai merasakan penurunan pemesanan perhiasan atau kerajinan sejak krisis moneter 1998. Kondisi semakin parah ketika COVID19 mewabah dunia termasuk Indonesia pada tahun 2021.
Uwais tidak lagi menunggu calon pembeli datang ke rumahnya yang juga menjadi toko untuk menjual hasil kerajinan perak. Uwais memanfaatkan penjualan seorang online.
Ia memberikan contoh perhiasan atau kerajinan perak di situsnya, setelah itu calon pembeli dapat memesan sesuai keinginan. Uwais mengatakan, dalam sebulan hanya empat atau lima pesanan namun ia tetap bersyukur.
“Sejak lima tahun lalu jual online karena lebih cepat dan perlu datang ke sini. Kalau online bisa keluar kota, saya pernah dapat pesanan dari Bali, Batam dan Jakarta,” ujarnya.
Uwais berharap agar pemerintah membantu perajinan perak diantaranya adalah pemasaran. Selanjutnya adalah intervensi untuk harga perak harga lebih rendah sehingga harganya terjangkau.

Sementara itu, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Jurian Andika mengatakan jumlah perajin perak tersisa delapan orang. Umumnya, mereka berusia diatas 40 tahun.
Oleh sebab itu, pihak Pokdarwis akan membuat kelas membuat kerajinan perak untuk wisatawan. Jadi wisatawan dapat membuat kerajinan perak sesuai dengan keinginan dan hasilnya dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
“Kalau menjual produk sukit maka yang kita jual kelas membuat perak. Wisatawan pulang membawa oleh-oleh yang dia bikin sendiri di desa wisata, itu yang kita kembangkan,” kata Jurian.
Konsep tersebut telah dikembangkan di Bali dan Yogyakarta sehingga kerajinan perak di dua provinsi terus berkembang. Pihaknya akan melibatkan perajin perak sebagai guru.
“Kita melibatkan perajin perak yang tidak hanya mampu bercerita tapi guru yang baik. Perajin juga harus bisa berbahasa Indonesia yang dapat di mengerti,” ujarnya menjelaskan.
Ia juga mendorong pemerintah untuk memasukan kerajinan perak sebagai muatan lokal di sekolah dasar (SD). Jurian mencontohkan, muatan lokal membatik di sekolah-sekolah di Jawa.
“Kenapa tidak di Koto Gadang atau Agam, misal pria berperak dan wanita sulam. Jadi level peminat dari anak-anak,”katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....