Surplus Dagang RI Januari-Agustus 2026 Capai Rp129,76 triliun, Ditopang Nonmigas

  • 06 Okt 2026 16:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD7,25 miliar (Rp129,76 triliun) dalam periode Januari-Agustus 2026.
  • Komponen nonmigas menghasilkan surplus yang signifikan sebesar USD28,54 miliar (Rp510,65 triliun), namun diimbangi oleh defisit migas sebesar USD21,29 miliar (Rp381,07 triliun).
  • Surplus perdagangan Agustus 2026 mencapai USD3,55 miliar (Rp63,54 triliun), meningkat drastis dari surplus Juli 2026 yang hanya USD0,12 miliar (Rp2,15 triliun).

RRI.CO.ID, Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD7,25 miliar (Rp129,76 triliun) sepanjang Januari-Agustus 2026. Capaian tersebut terdiri atas surplus nonmigas USD28,54 miliar (Rp510,65 triliun) dan defisit migas USD21,29 miliar (Rp381,07 triliun).

Surplus perdagangan Agustus 2026 tercatat USD3,55 miliar (Rp63,54 triliun). Nilai tersebut melonjak dibandingkan surplus Juli 2026 yang tercatat USD0,12 miliar (Rp2,15 triliun).

Pada Agustus 2026, sektor nonmigas mencatat surplus USD6,09 miliar (Rp108,99 triliun). Sementara itu, sektor migas masih mengalami defisit sebesar USD2,54 miliar (Rp45,46 triliun).

Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai lonjakan surplus Agustus membuktikan ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap terjaga. Ia menyebut surplus tersebut ditopang kinerja sejumlah komoditas andalan.

“Melonjaknya surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026 membuktikan ketahanan sektor eksternal Indonesia yang terus terjaga. Surplus perdagangan ditopang oleh kinerja komoditas andalan seperti lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja,” ujar Budi di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.

Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar pada Agustus dengan nilai USD3,95 miliar (Rp70,70 triliun). Komoditas tersebut disusul bahan bakar mineral sebesar USD2,45 miliar (Rp43,85 triliun) dan besi serta baja USD1,78 miliar (Rp31,86 triliun).

Dari sisi negara mitra, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar pada Agustus dengan nilai USD2,41 miliar (Rp43,13 triliun). India berada di posisi berikutnya dengan USD1,19 miliar (Rp21,29 triliun), disusul Malaysia sebesar USD0,83 miliar (Rp14,86 triliun).

Secara kumulatif, surplus nonmigas Januari-Agustus 2026 mencapai USD28,54 miliar (Rp510,65 triliun). Amerika Serikat menjadi penyumbang terbesar dengan surplus USD15,21 miliar (Rp272,20 triliun), disusul India USD9,15 miliar (Rp163,77 triliun) dan Filipina USD5,48 miliar (Rp98,07 triliun).

Dari sisi komoditas, lemak dan minyak hewani atau nabati mencatat surplus terbesar sepanjang Januari-Agustus 2026 sebesar USD24,91 miliar (Rp445,84 triliun). Selanjutnya, bahan bakar mineral menyumbang USD18,84 miliar (Rp337,18 triliun) dan besi serta baja sebesar USD12,10 miliar (Rp216,57 triliun).

Kinerja perdagangan juga tercermin dari nilai ekspor Indonesia yang mencapai USD193,64 miliar (Rp3.465,31 triliun) sepanjang Januari-Agustus 2026. Nilai tersebut tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Ekspor nonmigas meningkat 5,48 persen menjadi USD185,63 miliar (Rp3.321,99 triliun). Sebaliknya, ekspor migas terkontraksi 9,98 persen menjadi USD8,01 miliar (Rp143,37 triliun).

Pada Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai USD26,61 miliar (Rp476,16 triliun). Budi menilai capaian tersebut membuktikan ketangguhan perdagangan luar negeri Indonesia.

“Capaian ekspor Indonesia sebesar USD26,61 miliar (Rp476,16 triliun) pada Agustus 2026 membuktikan ketangguhan perdagangan luar negeri kita. Di tengah dinamika ekonomi global, produk-produk ekspor Indonesia tetap kompetitif dan mencatatkan tren pertumbuhan yang positif,” kata Budi.

Industri pengolahan menjadi penopang utama ekspor sepanjang Januari-Agustus 2026 dengan nilai USD159,55 miliar (Rp2.855 triliun). Kontribusinya mencapai sekitar 82,40 persen dari total ekspor dan tumbuh 7,87 persen secara kumulatif.

Budi mengatakan keberhasilan hilirisasi industri menjadi penopang utama sekaligus motor pertumbuhan ekspor nasional. Menurutnya, sektor industri pengolahan menunjukkan produk manufaktur Indonesia makin kokoh, berdaya saing, dan menjadi andalan di pasar internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....