Sektor Nonmigas Topang Surplus Neraca Perdagangan Rp2,12 triliun per Juli 2026
- 03 Sep 2026 14:29 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD0,12 miliar atau Rp2,12 triliun pada Juli 2026.
- Perdagangan nonmigas mencatat surplus USD3,10 miliar atau Rp54,84 triliun pada Juli 2026.
- Ekspor industri pengolahan tumbuh 7,16 persen dan berkontribusi 82,18 persen terhadap total ekspor hingga Juli 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta – Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mengalami surplus USD0,12 miliar (Rp2,12 triliun) yang ditopang sektor nonmigas. Perdagangan nonmigas mencatat surplus USD3,10 miliar (Rp54,84 triliun) dan mampu mengimbangi defisit perdagangan migas USD2,98 miliar (Rp52,72 triliun).
Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, mengatakan surplus ini menunjukkan kinerja perdagangan Indonesia tetap terjaga. Menurut dia, hal ini sejalan dengan pertumbuhan ekspor Indonesia sebesar 2,98 persen secara bulanan dibandingkan Juni 2026.
“Surplus perdagangan pada Juli 2026 menunjukkan kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga,” ujarnya, Rabu 2 September 2026. “Karena itu, diversifikasi pasar dan komoditas ekspor perlu terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusi sektor nonmigas.”
Sementara itu, ekspor nonmigas pada Juli 2026 meningkat 4,25 persen secara bulanan dibandingkan Juni 2026. Nilai ekspor Indonesia secara tahunan pada Juli 2026 mencapai USD26,22 miliar (Rp463,83 triliun), tumbuh 6,05 persen dibandingkan Juli 2025.
Total ekspor nonmigas pada Juli 2026 mencapai USD25,43 miliar (Rp449,86 triliun). Ini berarti naik 6,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekspor nonmigas secara bulanan terutama ditopang komoditas mesin dan peralatan mekanis yang meningkat 23,05 persen. Ekspor tembaga dan barang daripadanya naik 21,20 persen, sedangkan pakaian dan aksesorinya bukan rajutan meningkat 20,65 persen.
Dari sisi komoditas, surplus perdagangan nonmigas Januari hingga Juli 2026 terutama berasal dari lemak dan minyak hewani atau nabati sebesar USD20,96 miliar (Rp370,78 triliun). Bahan bakar mineral menyusul sebesar USD16,39 miliar (Rp289,94 triliun), serta besi dan baja sebesar USD10,32 miliar (Rp182,56 triliun).
Neraca perdagangan Indonesia tahun kalender Januari-Juli 2026 mencatat surplus USD3,70 miliar (Rp65,45 triliun). Ini berasal dari surplus perdagangan nonmigas USD22,45 miliar (Rp397,14 triliun) yang mengimbangi defisit perdagangan migas USD18,75 miliar (Rp331,69 triliun).
Menurut Mendag, industri pengolahan menjadi penopang utama ekspor Indonesia sepanjang periode tersebuy. Ekspor industri pengolahan tumbuh 7,16 persen dan berkontribusi 82,18 persen terhadap total ekspor.
“Industri pengolahan menjadi salah satu kekuatan utama ekspor Indonesia,” katanya. “Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi dan peningkatan daya saing produk ekspor perlu terus dilakukan.”
Mendag menegaskan pemerintah akan menjaga keseimbangan antara penguatan perdagangan dalam negeri dan peningkatan ekspor. Ini dilakukan melalui penguatan daya saing produk, peningkatan nilai tambah, perluasan serta diversifikasi pasar ekspor, dan pemenuhan kebutuhan produksi dalam negeri.
“Pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara penguatan perdagangan dalam negeri dan peningkatan ekspor,” ujarnya. “Sehingga diharapkan kinerja perdagangan Indonesia tetap tumbuh dan berkelanjutan.”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....