Hilirisasi Nikel Ubah Wajah Ekonomi Morowali
- 15 Sep 2026 07:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hilirisasi nikel mengubah wajah ekonomi Morowali, dengan sektor industri kini menyumbang lebih dari 75 persen struktur ekonomi daerah. Sebelumnya, ekonomi Morowali lebih banyak ditopang sektor primer seperti pertambangan dan pertanian.
- PDRB per kapita meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir, yakni 23,2 persen di Morowali dan 21,8 persen di Morowali Utara pada periode 2014–2024.
- Industri baterai berpotensi memberikan efek berganda terhadap komoditas lain, terutama aluminium dan tembaga, sehingga manfaat ekonomi hilirisasi tidak hanya dirasakan sektor nikel.
RRI.CO.ID, Jakarta - Hilirisasi nikel mulai mengubah wajah perekonomian daerah penghasil komoditas tersebut. Kabupaten Morowali dan Morowali Utara di Sulawesi Tengah menjadi salah satu contoh paling nyata, ketika sektor industri kini mengambil porsi besar dalam struktur ekonomi daerah yang sebelumnya bertumpu pada sektor primer.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan, perubahan tersebut terjadi seiring masuknya investasi dan berkembangnya industri pengolahan nikel dalam satu dekade terakhir. Menurutnya, transformasi ekonomi Morowali terlihat dari dominasi sektor industri yang kini mencapai lebih dari 75 persen struktur ekonomi daerah.
"Kalau kita lihat Morowali, sekarang lebih dari 75 persen struktur ekonominya berasal dari industri. Padahal sebelumnya lebih dari separuhnya berasal dari sektor primer, seperti pertambangan dan pertanian," kata Faisal dalam diskusi MediaMind Media Mind 2026: Hilirisasi Nikel dan Optimasi Nilai Tambah Dalam Negeri di Jakarta, Senin, 14 September 2026.
Perubahan serupa juga terjadi di Morowali Utara. Porsi sektor industri di daerah tersebut meningkat signifikan dibandingkan sebelumnya, seiring berkembangnya investasi dan aktivitas pengolahan nikel.
Faisal menilai perubahan struktur ekonomi tersebut menunjukkan hilirisasi tidak berhenti pada proses pengolahan komoditas. Namun, mulai memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian daerah.
Dari Tambang ke Industri Baterai
Menurut Faisal, perkembangan hilirisasi nikel Indonesia juga mengalami lompatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada awal 2021-2022, pengolahan nikel masih banyak berhenti pada produk seperti nickel pig iron (NPI) dan ferronickel. Kini, rantai pengolahan mulai bergerak menuju material baterai.
"Tapi makin ke sini, sudah sampai baterai. Ini sesuatu yang perlu saya pikir perlu sangat diapresiasi," katanya.
Dampak perkembangan tersebut tercermin dari peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), PDRB per kapita Morowali meningkat 23,2 persen pada 2014-2024. Sementara Morowali Utara meningkat 21,8 persen pada periode yang sama.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa perubahan struktur ekonomi berjalan bersamaan dengan peningkatan kapasitas ekonomi daerah.
PT Vale Perluas Hilirisasi
Perubahan tersebut juga diikuti dengan pengembangan rantai hilirisasi yang semakin panjang. Perusahaan tambang nasional di bawah holding pertambangan MIND ID, PT Vale Indonesia Tbk, mengembangkan sejumlah proyek high pressure acid leach (HPAL).
Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia Tbk, Mateus Sigit Harisulistya, mengatakan pengembangan HPAL dilakukan untuk memperluas basis hilirisasi, termasuk mendukung kebutuhan industri baterai. Sejumlah proyek yang dikembangkan antara lain Sorowako Limonite/HPAL di Sorowako, HPAL Sambalagi di Morowali, serta HPAL Pomalaa di Pomalaa.
"Kita melihat bahwa ke depan HPAL ini masih berpotensi, terutama untuk mendukung industri baterai. Yang harus tetap dijaga itu adalah competitiveness, bagaimana menjaga bahwa HPAL ini itu akan tetap berkembang," ujar Sigit.
HPAL mengolah bijih nikel limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP). Produk tersebut selanjutnya dapat masuk ke tahapan pengolahan berikutnya menjadi precursor cathode active material (pCAM) dan cathode active material (CAM) sebelum menjadi material baterai.
Dengan demikian, rantai hilirisasi nikel tidak lagi berhenti pada produk antara, tetapi dapat diteruskan hingga industri baterai.
Efek Berganda ke Komoditas Lain
Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif, mengatakan rantai industri baterai nasional saat ini dikembangkan mulai dari material baterai hingga cell dan battery pack.
Material baterai menjadi bahan input yang kemudian diproses menjadi cell sebelum masuk ke fasilitas packing. Produk akhirnya dapat digunakan untuk kendaraan listrik maupun battery energy storage system (BESS).
Menurut Aditya, kebutuhan BESS juga semakin relevan untuk mendukung kebutuhan energi. Termasuk, bagi industri data center.
Tidak hanya nikel, berkembangnya industri baterai juga berpotensi menciptakan permintaan terhadap komoditas lain, seperti aluminium dan tembaga. Aditya menyebut aluminium memiliki porsi sekitar 23 persen dan tembaga sekitar 18 persen dalam kebutuhan material baterai.
"Jadi kalau kita punya industri baterai yang sovereign, yang maju, yang berdaulat, sebetulnya kita juga punya kesempatan untuk mendapatkan dampak ekonomi yang lebih besar lagi dari komoditas-komoditas lainnya, tidak hanya nikel," kata Aditya menegaskan.
Transformasi Morowali menunjukkan bahwa hilirisasi dapat menggeser basis ekonomi daerah dari sekadar penghasil bahan mentah menjadi bagian dari rantai industri. Tantangannya kini bukan hanya meningkatkan volume produksi, tetapi memastikan rantai nilai tersebut semakin panjang dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar di dalam negeri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....