Mendag Pacu Ciptakan Negosiator Andal untuk Perluasan Pasar Ekspor

  • 02 Sep 2026 17:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan pentingnya sumber daya manusia (SDM) berkualitas sebagai fondasi untuk mendukung perluasan pasar ekspor Indonesia.
  • Kemendag meluncurkan cetak biru pengembangan SDM perdagangan menuju Indonesia Emas 2045 dan Trade Corporate University sebagai solusi pengembangan kompetensi perdagangan.
  • Tiga program Kemendag dapat menjadi referensi dalam menentukan kebutuhan kompetensi, materi ajar, dan dosen untuk meningkatkan kualitas negosiator perdagangan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan Budi Santoso menyoroti kebutuhan sumber daya manusia yang baik untuk mendukung perluasan pasar ekspor. Ia juga menyebut perlunya menciptakan negosiator perdagangan yang baik.

Budi menyampaikan hal tersebut saat peluncuran cetak biru pengembangan sumber daya manusia perdagangan menuju Indonesia Emas 2045 dan Trade Corporate University. Ia menjelaskan tiga program Kemendag dapat menjadi referensi dalam menentukan kebutuhan kompetensi, materi ajar, dan dosen.

“Nah ini perlu tentu perlu ya bagaimana kita punya SDM yang bagus. Bagaimana kita bisa menciptakan negosiator-negosiator yang bagus,” ujar Budi di Jakarta, Rabu, 2 September 2026.

Budi menjelaskan perluasan pasar ekspor merupakan program kedua Kementerian Perdagangan. Menurutnya, Indonesia tidak mudah mengakses pasar apabila tidak memiliki perjanjian dagang.

“Yang kedua, program kedua adalah perluasan pasar ekspor. Kita itu tidak mudah untuk akses pasar kalau kita tidak mempunyai perjanjian dagang,” kata Budi.

Budi menyebut 25 perjanjian dagang telah memasuki tahap implementasi. Dua perjanjian masih dalam proses ratifikasi, sedangkan 13 lainnya berada dalam proses negosiasi.

“Dan kita sudah mempunyai perjanjian dagang yang implementasi itu 25. Kemudian yang dua sekarang proses ratifikasi, dan yang 13 sekarang sedang proses negosiasi,” ucap Budi.

Budi kemudian menekankan perlunya SDM yang baik untuk menciptakan negosiator perdagangan yang bagus. Kebutuhan tersebut dapat menjadi referensi dalam menentukan kompetensi yang diperlukan.

“Kita ada tiga program di Kementerian Perdagangan. Nah ini nanti mungkin bisa menjadi referensi atau masukan Bapak-Ibu kira-kira kompetensi apa yang diperlukan,” ujar Budi.

Ia menerangkan, dua program lainnya mencakup pengamanan pasar dalam negeri dan dari lokal untuk global. Ketiga program tersebut dapat menjadi referensi dalam menentukan kompetensi, materi ajar, dan dosen.

Program pengamanan pasar dalam negeri mencakup pengelolaan kebijakan impor dan penerapan trade remedies sesuai ketentuan World Trade Organization (WTO). Sementara program dari lokal untuk global mencakup UMKM BISA Ekspor, Desa BISA Ekspor, dan campuspreneur.

“Yang pertama kita mempunyai program namanya pengamanan pasar dalam negeri. Ya jadi bagaimana pasar kita yang besar ini diisi oleh produk-produk kita,” kata Budi.

Budi juga menjelaskan fasilitasi ekspor bagi UMKM dilakukan dengan menghubungkannya kepada perwakilan Indonesia di luar negeri. Kemendag juga mendorong desa agar bisa ekspor melalui pelatihan dan business matching dengan perwakilan Indonesia di luar negeri.

“Yang pertama UMKM BISA Ekspor. Jadi kita memfasilitasi UMKM itu bisa ekspor dengan disambungkan ke perwakilan kita yang di luar negeri ya,” ucap Budi.

Selain itu, Kemendag mengembangkan program campuspreneur dan telah bekerja sama dengan lebih dari 20 kampus. Budi menyebut kerja sama tersebut mencakup pelatihan dan pencarian buyer, serta sudah ada mahasiswa yang melakukan ekspor.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....