Perum Bulog Bantah Beras Penyumbang Inflasi
- 02 Sep 2026 10:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Basan Pusat Statistik (BPS) menyebut beras menjadi salah satu penyumbang inflasi
- Perum Bulog menegaskan kenaikan harga terjadi pada beras premium
- Perum Bulog akan mengolah 300 ribu ton beras cadangan pemerintah menjadi premium
RRI.CO.ID, Jakarta-Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan beras bukan penyumbang inflasi karena kontribusinya kecil hanya 0,02 persen. Rizal menjelaskan berdasarkan kajian internal Bulog, kenaikan harga terjadi pada beras jenis premium.
Rizal mengatakan harga beras premium diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 17.000 hingga Rp18. 000 per kilogram. Adapun harga beras medium tidak mengalami kenaikan.
"Bukan penyumbang inflasi, tingkat grafiknya itu angkanya 0,02 dan penyumbang itu kan biasanya angkanya besar, ini kan penyumbangnya hanya 0,02. Setelah kami pelajari dengan tim kami Bulog itu adalah adanya kenaikan harga beras premium yang menjadi kendala kami," kata Rizal dalam keterangan pers di kantornya, Selasa, 1 September 2026.
Rizal menerangkan, selama ini Bulog menyimpan cadangan beras pemerintah (CBP) dalam bentuk beras medium dengan jumlah stok hampir 5 juta ton, sementara beras premium terbatas.
Bulog akan mengintervensi agar harga beras premium stabil. Oleh sebab itu, Bulog menyiapkan 300 ribu ton beras medium yang nantinya akan dialihkan atau diolah menjadi beras premium.
"Ini kami sedang ajukan untuk tahun 2026 ini per bulan September sampai dengan Desember, estimasi yang kami ajukan adalah sekitar 300 ribu ton. Tujuannya hanya untuk sebagai penetrasi untuk menstabilkan harga beras premium karena beras premium yang sekarang harganya rata-rata sudah di atas HET semuanya," katanya.
Rizal menginginkan harga beras di pasar tetap stabil sehingga ada keseimbangan antara petani, masyarakat selaku konsumen dan pengusaha. Jika harga tinggi maka konsumsen yang protes dan sebaliknya jika harga rendah, petani yang dirugikan.
"Kasihan masyarakat ya kalau harganya tinggi konsumen yang komplain, kalau harganya rendah pembeliannya petaninya yang komplain. Nah kemudian kalau harganya sedang-sedang saja pengusahanya yang komplain," ujarnya.
Adapun upaya untuk merealisasikan stok 300 ribu ton beras premium, Bulog akan berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator bidang Pangan. Bulog juga akan mengajukan izin dengan Badan Pangan Nasional untuk mengalihkan 300 ribu CBP menjadi premium.
"Beras premium kita masih terbatas, oleh karena itu kami sedang membuat usulan keKemenko Pangan dan Kepala Bapanas. Usulan agar ke depan Bulog diizinkan sesuai dengan Perbapanas untuk mengalihkan cadangan beras pemerintah menjadi beras premium," kata Rizal.
Sebelumnya , Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas beras menjadi salah penyumbang inflasi pada Agustus 2026. Laporan BPS, beras mengalami inflasi bulanan (month to month) sebesar 0,42% dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,02%.
"Inflasi beras juga ini dipengaruhi terutama oleh faktor distribusi beras ke pasarnya. Terutama pada beberapa wilayah di Indonesia kan ada sentra produksinya, ada juga yang non-sentra produksinya," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, dalam keterangan pers, di kantor BPS, Jakarta, Selasa 1 Agustus 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....