Ekspor Industri Kerajinan Naik 6,54 Persen, Tembus USD909,95 Juta

  • 01 Sep 2026 22:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ekspor industri kerajinan Indonesia mencapai USD909,95 juta pada triwulan II 2026, menunjukkan pertumbuhan yang konsisten.
  • Peningkatan sebesar 6,54 persen year-on-year menandakan daya saing produk kriya Indonesia di pasar internasional terus menguat.
  • Data dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian memverifikasi capaian ini sebagai indikator positif sektor kerajinan nasional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai ekspor industri kerajinan Indonesia mencapai USD909,95 juta pada triwulan II 2026. Capaian tersebut meningkat 6,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian, ekspor industri kerajinan meningkat 6,54 persen secara tahunan. Capaian tersebut menunjukkan produk kriya Indonesia semakin mendapatkan tempat dan apresiasi di pasar global.

Wakil Ketua Harian I Dekranas Loemongga Agus Gumiwang mengatakan PKJI 2026 memperkenalkan produk wastra dan kriya sekaligus memperluas akses pasar. Pameran tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan daya saing produk hingga mampu menembus pasar global.

“Selain itu, pameran ini juga bertujuan memperluas pengenalan beragam produk wastra dan kriya kepada masyarakat. Sekaligus meningkatkan daya saingnya di pasar nasional hingga pada akhirnya mampu menembus pasar global,” ujar Loemongga pada pembukaan Pameran Kerajinan Jogja Istimewa (PKJI) 2026 di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.

Menurut Loemongga, Dekranas dan Dekranasda bersama pemerintah terus memperkuat sinergi dalam mengembangkan industri kerajinan dan wastra nasional. Upaya tersebut dilakukan melalui program pembinaan, promosi, dan kemitraan serta penyediaan ruang bagi perajin dan pelaku usaha untuk berkembang.

“Dekranas terus berupaya menghadirkan ruang bagi para perajin dan pelaku usaha untuk berkembang, berinovasi. Serta memperluas akses pasar melalui berbagai program pembinaan, promosi, dan kemitraan,” kata Loemongga.

Loemongga juga melihat tren fesyen berkelanjutan atau slow fashion sebagai peluang bagi pengembangan wastra Nusantara. Keunikan, kualitas, bahan alami, teknik produksi tradisional, keterampilan perajin, dan nilai budaya menjadi nilai tambah yang membedakan produk kriya Indonesia.

“Wastra Indonesia memiliki keunggulan pada penggunaan bahan alami, teknik produksi tradisional, serta keterampilan para perajinnya. Nilai-nilai tersebut menjadi daya tarik, baik di pasar dalam negeri maupun mancanegara,” ucap Loemongga.

Selain regenerasi perajin, PKJI 2026 juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mengembangkan wastra serta kriya Nusantara. Loemongga menilai keterlibatan generasi muda penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya dan identitas bangsa.

“Saya berharap kegiatan ini menjadi sarana edukasi dan apresiasi terhadap warisan budaya yang terus hidup, berkembang, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan minat generasi muda terhadap wastra dan kriya Nusantara,” ucap Loemongga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....