Rosan Klaim DSI Efektif Tekan Under Invoicing, Komoditas Bakal Diperluas
- 15 Agt 2026 14:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- DSI mulai efektif mencegah praktik under invoicing melalui integrasi data ekspor dan pemantauan harga komoditas.
- Cakupan DSI akan diperluas ke komoditas ekspor lainnya, setelah saat ini mengawasi batu bara, kelapa sawit atau CPO, dan ferroalloy.
- Pemerintah memperkuat hilirisasi dan upstreaming BUMN untuk menciptakan lapangan kerja, memperoleh teknologi, dan memperkuat industri nasional.
RRI.CO.ID, Jakarta - Danantara Indonesia menyebut penerapan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mulai efektif mencegah praktik under invoicing dalam kegiatan ekspor. Sistem tersebut memungkinkan pemerintah membandingkan nilai ekspor yang dilaporkan dengan harga acuan secara lebih akurat.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan DSI saat ini mengawasi tiga komoditas ekspor strategis. Komoditas tersebut meliputi batu bara, kelapa sawit termasuk CPO, serta ferroalloy atau paduan besi.
Melalui DSI, pemerintah mengintegrasikan data dari sejumlah kementerian dan lembaga terkait aktivitas ekspor. Data tersebut mencakup informasi dari Kementerian Keuangan, Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, hingga Kementerian Pertanian.
Integrasi data tersebut memungkinkan pemerintah memantau aktivitas ekspor mulai dari pelabuhan, harga, volume, hingga negara tujuan. Pemerintah juga dapat mendeteksi adanya perbedaan antara harga yang dilaporkan eksportir dan indeks harga acuan.
“Memang kalau dibilang ada under invoicing, DSI itu datanya kami ada, dan kami bisa lihat. Tetapi alhamdulillah ini sekarang sudah membaik, sangat-sangat membaik,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Kantor Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.
Rosan menjelaskan sebelum penerapan DSI masih ditemukan kesenjangan antara harga yang dilaporkan eksportir dan indeks harga. Setelah data berbagai kementerian dan lembaga terintegrasi, pemantauan harga ekspor dapat dilakukan dengan lebih menyeluruh.
Pemerintah saat ini masih mengevaluasi dan memantau ekspor tiga komoditas yang telah masuk dalam cakupan DSI. Ke depan, cakupan pengawasan tersebut akan diperluas ke komoditas ekspor lainnya sesuai arahan Presiden.
Selain memperkuat pengawasan ekspor, pemerintah juga mendorong optimalisasi keuntungan BUMN untuk mendukung program hilirisasi. Pemerintah bersama Danantara telah melakukan peletakan batu pertama 13 proyek hilirisasi pada Februari dan 13 proyek lainnya pada April 2026.
Sejumlah proyek tersebut mencakup pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether atau DME, hilirisasi tembaga dan emas. Ada pula pengolahan garam industri, serta pembangunan smelter alumina menjadi aluminium yang dinilai berpotensi membuka puluhan ribu lapangan kerja baru.
Pemerintah juga mendorong strategi upstreaming dengan memanfaatkan keuntungan BUMN untuk mengakuisisi perusahaan unggulan dunia. Strategi tersebut diarahkan untuk memperoleh teknologi, manajemen, dan akses pasar guna memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Melalui strategi tersebut, BUMN tidak hanya diarahkan meningkatkan keuntungan, tetapi juga memperkuat industri nasional. Danantara memiliki peran dalam mendorong transformasi sekaligus mengoptimalkan aset perusahaan negara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....