Kemenperin Perkuat SDM Industri Bersama Swiss dan Jerman
- 21 Jul 2026 16:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Perindustrian mempercepat pengembangan sumber daya manusia industri melalui kerja sama strategis dengan Pemerintah Swiss dan Jerman untuk meningkatkan kompetensi ke standar global.
- Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa SDM industri harus memiliki sifat adaptif, inovatif, dan memiliki karakter pembelajar yang kuat.
- Penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi ditetapkan sebagai prioritas nasional dan fondasi utama dalam membangun SDM industri yang kompeten dan berdaya saing.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) industri melalui berbagai program. Salah satunya melalui kerja sama dengan Pemerintah Swiss dan Jerman untuk mengakselerasi kompetensi SDM industri ke tingkat global.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan perlunya SDM industri yang adaptif, inovatif, dan berkarakter pembelajar. Ia mengatakan, penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi prioritas nasional serta fondasi utama pembangunan SDM industri yang kompeten.
"Karena itu, penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi prioritas nasional. Hal itu juga merupakan fondasi utama pembangunan SDM industri yang kompeten," ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026.
Kemenperin melalui Badan Pengembangan SDM Industri dengan Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs dan Swisscontact. BPSDMI juga bekerja sama dengan Pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH.
Kerja sama tersebut dimulai sejak 2018 melalui program Skills for Competitiveness bersama SECO dan GIZ. Kolaborasi itu berlanjut melalui program S4C Fase 2 bersama Swisscontact serta program Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation.
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi mengatakan, kolaborasi tersebut telah memperkuat pengembangan ekosistem pendidikan vokasi industri di Indonesia. Dampaknya meliputi hibah peralatan praktik modern, peningkatan kapasitas pendidik dan peserta didik, serta penguatan kelembagaan sesuai standar manufaktur terkini.
"Yang tidak kalah penting, kita berhasil membangun sebuah budaya baru, yaitu budaya kolaborasi. Sekolah dan industri tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, keduanya harus menjadi mitra yang setara dalam mencetak talenta masa depan," kata Doddy.
Doddy mengatakan, BPSDMI terus memperluas kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Langkah dilakukan melalui pemantapan sistem pendidikan ganda, pelatihan In-Company Trainer, penguatan Career Development Center, serta digitalisasi layanan vokasi.
Sebagai kelanjutan kemitraan, BPSDMI bersama Pemerintah Swiss dan Jerman menggelar National DVET 2026 pada 21-23 Juli 2026. Forum nasional tersebut menjadi wadah konsolidasi pemangku kepentingan untuk memperkuat implementasi sistem pendidikan vokasi ganda.
Head of Cooperation SECO Violette Ruppanner mengatakan, investasi keterampilan berarti investasi bagi manusia, bisnis, dan daya saing ekonomi. Menurutnya, kemitraan tersebut memiliki tujuan mendekatkan dunia pendidikan dan industri.
"Sepanjang kemitraan ini, kita memiliki satu ambisi sederhana: mendekatkan dunia pendidikan dan industri. Ketika perusahaan membantu menyusun kurikulum, menyediakan magang terstruktur, berinvestasi pada talenta masa depan, semua pihak akan diuntungkan," ujar Violette.
Deputy Country Director GIZ Shameer Khanal mengatakan, peningkatan kualitas SDM menjadi kunci sukses dalam mendukung transisi hijau. Ia menilai transformasi yang sukses hanya dapat dicapai melalui kemitraan.
"Kegiatan hari ini adalah tentang berinvestasi pada manusia. Sebab, tidak ada transisi hijau yang berhasil tanpa tenaga kerja yang dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, kesempatan," kata Shameer.
Sekretaris BPSDMI Sidik Herman berharap metode, perangkat, dan praktik baik dapat diadopsi lebih banyak institusi pendidikan maupun perusahaan. Ia juga membuka peluang kolaborasi baru untuk menjawab tantangan pengembangan SDM industri yang semakin kompleks.
"Kami berharap berbagai metode, perangkat, dan praktik baik dapat diadopsi banyak institusi pendidikan maupun perusahaan. Kami juga membuka seluas-luasnya peluang kolaborasi baru, karena tantangan pengembangan SDM industri ke depan semakin kompleks," ujar Sidik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....